(Review kisah kita yang tak pernah bosan untuk kubaca)
Belum sempat tertawa
lepas tanpa mewanti. Belum sempat menyentuh wajah dengan jemari. Belum
sempat duduk berdua dengan sensasi. Belum sempat menahan diri dalam
kondisi. Belum sempat saling mengejek karena hati. Belum sempat ada
kenangan yang berarti. Belum sempat...
Kamu yang
pertama kali kusebut cinta, saat usia masih terlalu dini untuk mengerti.
Saat ego masih menguasai, memilih menghianati hati demi teman-teman
yang mengagungkan kaummu yang sesuai imajinasi. Tapi jalan telah kudaki
meski tanpa kusadari. Akhirnya benang itu membawaku bermuara di hatimu.
Lagi-lagi dengan sembunyi dari teman-teman yang tak setipe, kita memulai
urusan hati.
Kamu yang memang tipikal pemalu,
lebih banyak diberondong oleh teleponku. Tak urung walau Ibu kosan
mewanti. Sempat ragu mengingat kamu berlaku kurang selayaknya kekasih.
Tapi aku mengerti karena memang begitulah kamu, yang sederhana dan penuh
hati-hati, sikap diri yang mencuri hati ini.Sepanjang cerita ada cukup
janji yang kemudian hari memunculkan banyak dugaan dan mimpi. Ada cita
yang membuat kita semakin memantapkan hati. Ada kesamaan yang membuat
kita saling memahami. Ada banyak hal yang menjadikan kita tak ingin
menyudahi. Sedikit cerita mulai terjadi...
Saling
menanti di gerbang sekolah. Aku masih ingat betul ada perasaan kikuk
yang mengikuti. Masih ada sikap malu-malu yang membuat diri tak
terkendali. Lalu, ada hadiah pertama untuk ulang tahun pertama. Ada
boneka, tas, jam, dan pesan untuk hati dalam bingkai kertas pinky. Meski
warna tak seturut hati, tapi kuanggap kamu sedang mempelajari. Juga
menyesuaikan dengan kondisi (Valentine Days).
Tak
perlu menunggu lama, kesalahan yang kemudian hari kusesali mulai
beraksi. Tak ada lagi menanti di gerbang sekolah. Tak ada lagi telepon
ungkapan rindu di hati. Tak ada hadiah di ulang tahun yang kamu nanti.
Sekedar ucapan pun tidak. Tak ada tegur sapa yang biasa atau lebih. Yang
ada aku membiarkanmu menunggu tanpa pasti, hingga kamu bosan dan
menyimpulkan sendiri: aku mau menyudahi.
Hari
lepas hari berganti. Aku merindukanmu. Ada dua kali kesempatan merajut
hati lagi untuk kemudian menyusul penyesalan kembali.
Ada kosong yang panjang...
Rasa
ini terlalu menyiksa. Apakah karena aku belum membuka diri maka sulit
melupakanmu? Atau karena aku yang tak bisa melupakanmu maka aku tak bisa
membuka diri untuk yang baru?Lama aku menunggu, menghakimi diri atas
keputusan yang diambil dengan terburu-buru saat usia masih terlalu hijau
untuk menimbang-nimbang. Hingga aku melonggarkan harga diri,
menoleransi komitmen yang didengungkan oleh kaumku demi kelepasan di
relung hati. Disitulah kusadari hukum tabur-tuai berlaku benar. Kau
ragukan pesan yang dengan jelas bukan pernyataan tapi pengakuan dan
permintaan. Seketika aku tahu, tak ada harapan. Benar saja kamu memilih
apa yang paling kutakuti.Entah apa yang salah. Sebenarnya begitu banyak
pertemuan, tapi mengapa diam? Aku dan kamu? Bahkan sekedar tersenyum pun
tidak.
Begitu sulitkah mendahului?Masih tetap berharap untuk kembali, tapi dengan syarat kamu yang memulai.
Beber15042011 @WLP