Kata mereka
relita tak pernah melebihi imajinasi. Kata mereka realita imajinasi hanya milik
malaikat bukan pribadi. Menyamainya saja nyaris. Lantas apakah ini? Memang
sudah tak seharusnya realita melebihi imajinasi seperti ini.
Sesuatu yang
luar biasa mengapa harus dikisah ini? Aku tak meminta Zeus, Poseidon, dan Arion
dikombinasi. Cukuplah seadanya diri biar tak membuatku mencari baiknya kisah
ini ditolak atau disyukuri. Hingga aku membiarkanmu pergi, menghianati cinta di
hati.
Beratus kali
tegak punggung berkepanjangan telah kulewati dalam diam. Tapi aku tak pernah
bisa bahkan sesaat melupakanmu. Selalu kucoba dan selalu kalah. Inginku sebatas
cuaca yang selalu berubah, tapi rasa ini serupa iklim, begitu permanen. Setiap angan mencoba
selalu jatuh pada titik yang sama, yang begitu sempurna, dirimu.
Kata adalah
caraku bisa menggapaimu. Kata yang kuramu dengan percik imajinasi dalam luasnya
fantasi. Tapi, saat pagi menghampiri dalam gemercik air di tempayan, kusadari gapaiku
hilang di atmosfer. Jika itu selalu jawab pagi, tolong jangan ada mentari,
bulan saja sudah cukup!
Musuh ternyata
tak hanya pagi, tapi kata itu sendiri. Menjelma dia dalam peribahasa yang sok
tahu: “seperti pungguk yang merindukan bulan”. Dia seolah ikut menggagalkan
imajinasi, melegalkan norma fantasi. Hingga takut aku dicampakkan pada
kenyataan yang perih. Ke mana lagi aku mencarimu?
Iman? Em...adakah
itu sebuah nama? Mengingatkanku akan seorang anak di sebelah rumah yang harapnya
selalu nyata. Mungkin benar iman tempat
baruku untuk mencari. Tapi mampukah iman mengubah jawaban pagi? Menanti, itu
yang dijanjikannya dan aku meragu.
Langit sore yang
merah telah tergambar di jendela. Aku masih bertahan dalam tegak punggung
berkepanjangan, menanti yang lebih gelap lagi sampai aku seperti siluet demi
menyamarkan sesal dan kesepian yang mengagenda setiap hari. Kesepian yang
membidani lahirnya frustasi. Sepi yang pernah membuatku mencoba mengakhiri
diri, menyadarkanku akan sakitnya menyayat nadi. Sepi yang memunculkan berani
memaki Pemberi Kasih.
Lalu, bagai
zenith kamu ada di situ. Begitu tiba-tiba, sangat dekat kamu denganku meski tak
sedekat dalam imajinasi. Kamu tersenyum. Masih seperti dulu, tulus. Seketika
hatiku berteriak memanggil mentari dan mengutuki untuk harapan yang lebih gelap
tadi.
Sedetik...lima...sepuluh
detik? Senyummu membatu. Adakah ini ilusi optik? Ingin kucubit diri
tapi
aku terlalu takut kalau ini bukan realita. Enggak siap! Kuhampiri dirimu yang
bak prasasti. Berjinjit aku demi menyentuh wajahmu yang telah terpatri, wajah
yang mengingatkanku pada langit malam yang tak berbintang, bersih. Wajah yang
membuatku cemburu pada handuk dan cermin. Kusentuh ujung hidungmu yang mancung,
kamu masih membatu. Dalam langkah mundurku, kamu mengabur bagai tulisan di
kulit yang dihapus dengan jari. Dalam
diam kusadari kamu bukan pribadi. Nanar. Kutatap mentari yang masih setia pada
langit sore di ufuk barat, mengangkangi hati yang mencari.
Tapi itu lebih
baik daripada kunodai hidup suci atas nama cinta sejati. Daripada kutelanjangi
harga diri dalam dirimu yang asli, mengemis cinta yang telah kubuang dengan
alasan ketidakpercayaan diri. Bersanding dengan sempurnamu adalah percaya diri
yang dikubur mati.
Mungkin
pertemuan itu baiknya jangan pernah terjadi. Baiknya tetap seperti dulu, saat
ruang, jarak, dan waktu menghambat
pertemuan kisah ini. Karena disitulah letak cacat sempurnamu. Tempat yang
kuyakini butuh kamu akan aku. Tapi kamu terlalu berani memutuskan menghampiriku
yang belum pasti. Aku yang miskin penampilan dan materi. Aku yang katamu kaya
akan ironi. Aku, gadis dari seberang pulau yang kamu coba cari. Dan membawamu
pada kenyataan yang kuyakini juga perih.
Lagi pula, tiada
guna kamu kembali karena keadaan tak sama lagi. Biarlah aku sendiri dalam sepi
yang hadirkan frustasi. Sepi yang membidani dosa-dosa besar ditiap hari dalam
harapan-harapan tentangmu di singgasana keluarga yang tak pasti.
![]() |
| Sumber: www.nytimes.com |
Andai kamu
frustasi dan mengutuki diriku yang ingkar janji, lakukanlah. Selayaknya aku
memang harus dikutuk dan dimaki. Mungkin ini juga salah satu buah dari kutukmu
yang manis. Kutuk yang mengenalkanku pada refleksi. Dihantarkannya juga aku
pada cinta sejati dalam Dia Pemberi Kasih. Tiada lain di barak-barak biara
tempat baruku menggenapi hari.
Mungkin
Tuhan tak ingin kamu menjadi kado cinta bagiku. Atau ini kado cinta dari Dia,
menjadikan-Nya mempelai hatiku.
@bebersagala Jatinangor,
2010
.jpg)