March 24, 2011


Aku Merenung...

Sudah lama aku tak melewati jalan setapak itu
Semenjak teman pindah kosan, nyaris tak pernah lagi
Aku memandang langit yang menyatu dengan kilauan kelap-kelip lampu di ujung sana

Malam ini, aku melewatinya kembali demi teman yang "gentar" pada temaram
Setelah sampai di asramanya,
maka aku melangkah sendiri melanjutkan perjalanan menuju kosan

Di bawah payung yang sedikit bergoyang
Aku merenung:
tentang dua jam yang baru saja berlalu
yang berisi diskusi tentang: Tuhan, kesaksian, Iman, kasih, Islam, dan kehidupan

Oleh pribadi--yang membuatku masih bertanya-tanya bagaimana dia bisa berubah sedasyat itu--
Aku dihantarkan pada kehidupan yang sudah cukup lama aku abaikan
Aku disadarkan akan kewajibanku sebagai "anak"
Aku diingatkan akan banyak kesempatan yang telah terlewatkan
Aku ditegur tentang kehidupan doa yang termaklumkan
Aku dipermalukan pada diri yang malu

March 18, 2011

Mahasiswa Bunglon Versus Mahasiswa Kupu-kupu

Oleh: Berliana Sagala

Istilah kupu-kupu di dunia kampus mungkin sudah tidak asing lagi bagi beberapa orang. Ya, kupu-kupu yang dimaksud merupakan singkatan dari kuliah/pulang-kuliah/pulang, sebutan bagi mahasiswa yang umumnya: study oriented, (istilah saya) kepompongnya perpustakaan, dan menarik diri dari kegiatan di luar perkuliahan. Mahasiswa seperti ini juga cenderung tidak peduli dengan sekitarnya, hanya mementingkan nilai dan ingin secepatnya menyelesaikan perkuliahan. Kegiatannya hanya belajar (teori) melulu.

Sementara itu, akhir-akhir ini, saya juga melihat jenis mahasiswa baru, yang saya sebut dengan: mahasiswa bunglon. Mahasiswa jenis ini adalah mahasiswa labil yang selalu berubah, tidak tetap pendiriannya, dan selalu berusaha mengikuti apa yang terjadi. Mahasiswa yang tahunya hanya dandan, mengikuti trend, kuliah ogah-ogahan, dan tidak mau tahu dengan lingkungannya.

Fenomena di atas, semakin hari semakin kelihatan orang-orangnya. Sedihnya, mahasiswa yang dari daerah, misalnya mahasiswa Batak, yang dibekali dengan pola berpikir kritis, dibentuk di lingkungan yang “vokal” dan cenderung mengabaikan hal-hal remeh seperti tata rias, justru ikut-ikutan dengan mahasiswa-mahasiswa ini. Keadaan ini menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan di tengah-tengah kondisi bangsa yang memerlukan pemimpin-pemimpin yang tegas, bertanggung jawab, dan kritis dalam berpikir. Kondisi ini juga sekaligus menjawab mengapa pemimpin-pemimpin bangsa kita bermental lembek.

Mahasiswa-mahasiswa jenis ini pula menyumbangkan peran dalam mencoreng dunia kampus sebagai jenjang tertinggi dalam dunia pendidikan. Peran kampus sebagai tempat pembentukan pemimpin-pemimpin bangsa juga seolah cacat karenanya.

Setiap orang memang mempunyai hak dan idealisme masing-masing. Tetapi hal ini menjadi riskan di negara kita yang memerlukan mahasiswa-mahasiswa yang “vokal” dan mau tahu dengan nasib bangsanya. Mahasiswa yang merupakan agen perubahan, pengawas pemerintah, lidah rakyat, dan sebutan-sebutan hebat lainnya. Bukan mahasiswa yang tahunya cuma dandan, menggosip, copy-paste tugas, dan mengkritik dosen atau pemerintah tetapi tidak tahu apa yang dikritik. Sejak peristiwa jatuhnya pemerintahan Orde Baru, belum ada lagi peran mahasiswa yang luar biasa. Pergerakan mahasiswa seolah ikut tenggelam dalam lumpur Sidoarjo.

Untuk menghindari atau setidaknya mengurangi mahasiswa kupu-kupu atau bunglon, marilah kita mulai dari diri sendiri. Nilai dan soft skill pastilah bisa berjalan berdampingan. Toh banyak juga mahasiswa yang pada akhirnya berhasil di masa depan bukan karena IPK yang tinggi, tetapi karena pengalaman dalam berorganisasi. Sangat disayangkan bila dunia perkuliahan yang sangat luas dan menawarkan banyak pengalaman ini berlalu begitu saja.

Saya kira orang-orang akan setuju dengan pendapat saya, bahwa dalam hidup perlu juga kita merasakan pengalaman-pengalaman yang membuat kita tidak nyaman—biasanya hal ini yang menyebabkan mahasiswa enggan mengikuti kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan. Hidup yang lurus-lurus saja tidak akan membuat kita lebih bijak dan lebih berkarakter. Pilihan lingkungan yang menawarkan, tetapi keputusan ada di tangan kita. Jadilah mahasiswa-mahasiswa yang bermental baja demi terciptanya pemimpin-pemimpin bangsa yang tegas, bertanggung jawab, dan tidak labil.

Budaya Instan yang Cacat

Oleh: Berliana Sagala

Waktu menjadi sesuatu yang penting dalam gaya hidup (mahasiswa) modern. Sebisanya orang-orang berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan waktu sedikit mungkin. Dampaknya, terciptalah budaya instan yang cacat karena tidak sesuai dengan budaya yang lambat. Lalu, terbentuklah generasi pemalas yang tanpa disadari kemudian membentuk kapitalisme modern.

Di waktu-waktu ini, semua berputar dalam ranah: instan. Bagi mahasiswa yang punya “modal” ingin makan dan minum tinggal pesan melalui layanan jasa pesan/antar, pakaian kotor akan kinclong lewat layanan jasa loundry, tugas kuliah produk copy/paste, kalau masih menghargai usaha paling sebatas sistem kebut semalam (sks). Ada juga praktik ghost writer—terjemahan bebasnya penulis hantu atau penulis di belakang layar—dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah dan skripsi. Meskipun penulis hantu di sini belum setingkat profesionalnya setidaknya penulis hantu sudah mendapat akarnya. Biasanya dibayar dengan traktiran menonton atau makan di kantin. Bahkan dalam proses perkuliahan, mahasiswa juga ingin dipersingkat. Bukan lantaran sudah paham akan materinya, tapi ingin segera kembali ke kosan tidur setelah semalaman begadang dengan tujuan yang tidak jelas. Atau karena ingin jalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan.

Ditilik dari latar belakangnya, terlihat kesalahan praktik budaya instan. Kalau di Barat budaya instan berpangkal pada waktu yang memang habis dalam pekerjaan, di sini justru berpangkal pada kemalasan. Rasanya terlalu dini untuk ukuran mahasiswa mempraktekkan budaya ini.

Memang untuk beberapa hal apa yang saya sebutkan sebelumnya kalau terkendala dalam tidak memadainya waktu karena aktivitas yang seabrek, seperti kerja paruh waktu dan ikut beberapa organisasi, dilakukan sesekali sah-sah saja. Tapi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kalau berpangkal pada kemalasan dan persepsi, rasanya kurang bisa diterima akal.

Malas? Ya, saya kira malas adalah faktor pembentuk budaya instan yang terutama. Karena malas berjalan ke warung atau tempat makan terdekat, malas mencuci, malas berpikir kritis, malas mengerjakan segala sesuatu. Umumnya sifat ini ada pada mahasiswa-mahasiswa kaya. Mahasiswa yang berasal dari keluarga serba merintah. Lantas, malas ini tersalurkan karena didukung dengan “modal” yang dimiliki. Dengan adanya uang yang berlebih membuat kebiasaan-kebiasaan yang serba menerima tanpa usaha menjadi mungkin terjadi.

Faktor lainnya adalah cepat merasa puas. Saya melihat mahasiswa yang cepat puas cenderung mempraktekkan hal ini terkhusus dalam pengerjaan tugas-tugas perkuliahan. Puas dengan hasil yang biasa saja padahal mereka mampu menghasilkan yang lebih. Dan faktor terakhir adalah persepsi (atau gengsi). Banyak orang bertindak mengikuti kebiasaan ini karena ingin dipersepsi keren, tajir, dan terkesan hebat. Lagipula, di masyarakata kita ada semacam perasaan tertentu yang menaikkan gengsi seseorang karena memakai jasa tukang laundry, pesan/antar, dan mentraktir teman.

Sebagai kaum intelek, saya kira mahasiswa harusnya tahu kapan harus bersikap instan dan tidak. Kemalasan, sebagaimana diketahui bersama haruslah dihindari. Ingat bahwa tujuan orang tua memperkuliahkan kita adalah untuk belajar, bukan bersantai-santai dan menghabiskan uang. Malas bisa diubah, setidaknya bergaullah dengan orang-orang yang rajin dan menghargai proses. Agar tidak stres diawal mengerjakan tugas dan menghindari sks karena tugas yang menumpuk, baiknya pengerjaan tugas dicicil jauh-jauh hari. Kalau masih bisa dikerjakan sendiri, janganlah mengandalkan orang lain. Hasilnya pasti jauh lebih baik dan lebih menyenangkan.

Untuk pemanfaatan layanan jasa dari usaha-usaha masyarakat, saya tidaklah bermaksud untuk melarang. Tetapi, akan lebih baik bila masih bisa dilakukan sendiri. Uang yang berlebih bisa dipakai beli buku, menambah koleksi sepatu atau baju untuk dipakai kuliah, dan persiapan tabungan jangka panjang. Atau yang lebih beramal, disalurkan bagi saudara-saudara yang kurang mampu. Setelah melakukan hal-hal ini, pada gilirannya, tanpa disadari ada pribadi baru yang terbentuk di diri kita. pribadi yang lebih berkarakter.