Budaya Instan yang Cacat
Oleh: Berliana Sagala
Waktu menjadi sesuatu yang penting dalam gaya hidup (mahasiswa) modern. Sebisanya orang-orang berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan waktu sedikit mungkin. Dampaknya, terciptalah budaya instan yang cacat karena tidak sesuai dengan budaya yang lambat. Lalu, terbentuklah generasi pemalas yang tanpa disadari kemudian membentuk kapitalisme modern.
Di waktu-waktu ini, semua berputar dalam ranah: instan. Bagi mahasiswa yang punya “modal” ingin makan dan minum tinggal pesan melalui layanan jasa pesan/antar, pakaian kotor akan kinclong lewat layanan jasa loundry, tugas kuliah produk copy/paste, kalau masih menghargai usaha paling sebatas sistem kebut semalam (sks). Ada juga praktik ghost writer—terjemahan bebasnya penulis hantu atau penulis di belakang layar—dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah dan skripsi. Meskipun penulis hantu di sini belum setingkat profesionalnya setidaknya penulis hantu sudah mendapat akarnya. Biasanya dibayar dengan traktiran menonton atau makan di kantin. Bahkan dalam proses perkuliahan, mahasiswa juga ingin dipersingkat. Bukan lantaran sudah paham akan materinya, tapi ingin segera kembali ke kosan tidur setelah semalaman begadang dengan tujuan yang tidak jelas. Atau karena ingin jalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan.
Ditilik dari latar belakangnya, terlihat kesalahan praktik budaya instan. Kalau di Barat budaya instan berpangkal pada waktu yang memang habis dalam pekerjaan, di sini justru berpangkal pada kemalasan. Rasanya terlalu dini untuk ukuran mahasiswa mempraktekkan budaya ini.
Memang untuk beberapa hal apa yang saya sebutkan sebelumnya kalau terkendala dalam tidak memadainya waktu karena aktivitas yang seabrek, seperti kerja paruh waktu dan ikut beberapa organisasi, dilakukan sesekali sah-sah saja. Tapi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kalau berpangkal pada kemalasan dan persepsi, rasanya kurang bisa diterima akal.
Malas? Ya, saya kira malas adalah faktor pembentuk budaya instan yang terutama. Karena malas berjalan ke warung atau tempat makan terdekat, malas mencuci, malas berpikir kritis, malas mengerjakan segala sesuatu. Umumnya sifat ini ada pada mahasiswa-mahasiswa kaya. Mahasiswa yang berasal dari keluarga serba merintah. Lantas, malas ini tersalurkan karena didukung dengan “modal” yang dimiliki. Dengan adanya uang yang berlebih membuat kebiasaan-kebiasaan yang serba menerima tanpa usaha menjadi mungkin terjadi.
Faktor lainnya adalah cepat merasa puas. Saya melihat mahasiswa yang cepat puas cenderung mempraktekkan hal ini terkhusus dalam pengerjaan tugas-tugas perkuliahan. Puas dengan hasil yang biasa saja padahal mereka mampu menghasilkan yang lebih. Dan faktor terakhir adalah persepsi (atau gengsi). Banyak orang bertindak mengikuti kebiasaan ini karena ingin dipersepsi keren, tajir, dan terkesan hebat. Lagipula, di masyarakata kita ada semacam perasaan tertentu yang menaikkan gengsi seseorang karena memakai jasa tukang laundry, pesan/antar, dan mentraktir teman.
Sebagai kaum intelek, saya kira mahasiswa harusnya tahu kapan harus bersikap instan dan tidak. Kemalasan, sebagaimana diketahui bersama haruslah dihindari. Ingat bahwa tujuan orang tua memperkuliahkan kita adalah untuk belajar, bukan bersantai-santai dan menghabiskan uang. Malas bisa diubah, setidaknya bergaullah dengan orang-orang yang rajin dan menghargai proses. Agar tidak stres diawal mengerjakan tugas dan menghindari sks karena tugas yang menumpuk, baiknya pengerjaan tugas dicicil jauh-jauh hari. Kalau masih bisa dikerjakan sendiri, janganlah mengandalkan orang lain. Hasilnya pasti jauh lebih baik dan lebih menyenangkan.
Untuk pemanfaatan layanan jasa dari usaha-usaha masyarakat, saya tidaklah bermaksud untuk melarang. Tetapi, akan lebih baik bila masih bisa dilakukan sendiri. Uang yang berlebih bisa dipakai beli buku, menambah koleksi sepatu atau baju untuk dipakai kuliah, dan persiapan tabungan jangka panjang. Atau yang lebih beramal, disalurkan bagi saudara-saudara yang kurang mampu. Setelah melakukan hal-hal ini, pada gilirannya, tanpa disadari ada pribadi baru yang terbentuk di diri kita. pribadi yang lebih berkarakter.