March 12, 2012

MENULIS SEBAGAI REFLEKSI

Berawal dari kesalahan, itulah perkenalan saya dengan dunia menulis. Saat saya duduk di tingkat dua Sekolah Menengah Pertama, saya tidak bisa mengontrol mulut saya untuk tidak menjadi sok jagoan dalam menulis surat cinta di depan teman-teman. Demi pembuktiaan akan kata-kata yang sudah terucap, jadilah saya memaksakan diri melakoni dunia menulis, sesuatu yang saya kurang suka bahkan cenderung enggak peduli.
 
Awalnya hanya tulisan-tulisan biasa yang jauh dari layak untuk ukuran seseorang yang mengaku bisa menulis. Namun, seiring banyaknya kertas yang terbuang dan demi menulis sesuatu yang “luar biasa”, akhirnya saya menemukan potensi (baca : talenta) baru dalam diri saya. Saya sangat suka bermain dengan kata, terkhusus menempatkan kata berbeda dari fungsinya.

Lalu, semakin jauh saya melakoni bidang ini, saya semakin mencintainya. Saya juga menyadari menulis merupakan sebuah kebutuhan sekaligus refleksi bagi saya. Saat saya merasa tertekan oleh keadaan, saya menuliskannya. Kemudian saya temukan ketentraman di dalamnya, bahkan (terkadang) pemecahan masalah yang saya alami. Lewat menulis, saya juga menemukan kepuasaan tersendiri yang tidak akan dimengerti orang lain kecuali dialami sendiri.

Alasan lain mengapa saya menulis adalah karena dengan menulis, saya belajar mengenali diri saya sendiri. Kapan saya harus berkarakter sebagai anak kecil, seorang yang dewasa, dan orang tua. Saya juga menjadi mengerti bahwa sering kali hal-hal yang dianggap beberapa orang bersifat remeh-temeh adalah sesuatu yang penting bahkan prinsipal bagi orang lain.

Terlebih saat ini, lewat pelayanan saya di kampus, saya berharap dapat berbagi dengan orang lain atas apa yang saya peroleh dari-Nya. Saya juga ingin memberikan penghiburan, motivasi, dan (meminjam kalimat pengantar tugas ini) pencerahan di tengah-tengah dunia yang bising tak karuan ini kepada saudara-saudara seiman. Besar harapan saya, lewat tulisan-tulisan, yang saya harap kemudian hari dapat saya hasilkan, semakin banyak orang yang percaya akan Yesus Kristus. Dan semakin banyak tulisan-tulisan yang membangun.

WLP, 2009



JADILAH MAKA JADI

Gadis yang dulu tertunduk
Gadis yang pemurung, yang tak banyak bicara
Kini menjelma jadi tiang pancang

Setia, itulah awalnya.

Lama Sang Gadis menabur,
Dalam raga, waktu, komitmen
Dan sekumpulan harga

Memang tak selalu mudah
Ada tak hanya sekali "sudahlah"

Ada ragu yang membuncah
Tat kala Sang Gadis gamang menghadang waktu
Sudahkah terlalu lama
Atau masih setengah saja

Belum waktunya kata Sang Empunya titah
Sang Gadis tafakur di singgasana
Bercengkrama bersama waktu yang telah lama

Ada dua kali "wahhh"
Ada tiga kali "kok bisa"
Ada empat kali "mungkinkah"
Lantas ditutup hati "imanilah"

Terima kasih karena percaya

                                           WLP 12032012