November 02, 2011
November 01, 2011
Ramalan Kang Wawan
Oleh: Berliana Sagala
Danka terlihat uring-uringan mengikuti perkuliahan hari ini. Enggak seperti biasanya, mahasisiwa orientasi IP (index prestasi) empat itu tak sedikit pun mengacuhkan Bu Kismi, dosen Bahasa Indonesia dengan basic Ilmu Filsafat yang kritis banget dalam segala hal. Perkuliahan hari ini jadi sedikit kehilangan makna. Enggak rame tanpa debat keduanya.
Usut punya usut ternyata Danka sedang pusing memikirkan ramalan Kang Wawan, pedagang nasi gila langganan Beber, yang di depan gerbang kampus. Tadi pagi, saat Danka menemani Beber sarapan, Beber yang enggak boleh ketinggalan satu pun edisi koran menyuruh Danka menunggu kembalian yang sedang ditukar Kang Wawan. Sementara Beber sibuk melihat-lihat sepintas headline hari itu di pojok jalan. Nah, ketika Danka menengadahkan tangannya untuk meminta kembalian, tiba-tiba Kang Wawan membaca garis tanganya.
“Eem...garis tangan Eneng bagus.” Ujar Kang Wawan tanpa diduga.
Danka yang tadinya ingin menepis tangan Kang Wawan, seketika membatalkan niatnya, penasaran dengan ramalan yang akan muncul berikutnya.
“Eneng pasti masa depannya sukses. Tapi banyak rintangannya.” Lanjut Kang Wawan bak almarhumah Mama Lauren.
Danka manggut-manggut sambil cengar-cengir menanggapi ramalan Kang Wawan.
“Yaelah Kang, gua juga tahu kali kalo masa depan gua bakalan sukses hehehe. Dan masalah rintangan, itu relatif.” timpal Danka.
“Eh, tapi masalah jodoh Eneng...rada jelek tuh.” Ujar Kang Wawan ragu-ragu.
“Maksudnya Kang??” Danka mulai menanggapi dengan serius.
“Eneng bakalan nikah dua kali.”
Gubrak!!
“Hahahahaha...” Danka tertawa lepas sejadi-jadinya. “Enggak mungkinlah Kang...gua kan penganut monoandri. Lagian hati gua enggak bakalan sejahat itu menduakan Noya.” Lanjut Danka sambil terkekeh.
“Eneng mau percaya atau kagak mah itu terserah Eneng. Akang kan cuma bilang apa yang terbaca dari garis tangan Eneng. Lihat garis yang ini, bersilangan.” Terang Kang Wawan sambil memperlihatkan garis-garis tangan Danka.
Melihat keseriusan Kang Wawan, Danka mulai mempertimbangkan ramalan itu. Apalagi situasinya spontan. Danka yang percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semakin terusik dengan ramalan Kang Wawan. Dia memikirkan Noya dan hari tuanya.
“Lo kenapa Dan? Tumben lo enggak antusias dengan perkuliahan Bu Kismi.” Ucap Beber saat mereka meninggalkan kelas. “Bukannya apa-apa, kasihan tuh anak-anak jadi objek cerewetan Bu Kismi.” Lanjutnya.
“Hhaaaa...” teriak Danka tiba-tiba sambil mengacak-acak rambutnya.
Beber yang tak menduga direspon seperti itu kaget dan bengong seketika.
“Masa gua diramal bakalan dua kali married.” Terang Danka enggak semangat.
“Hahahahaha...” kelekar Beber. “Jadi lo sepanjang perkuliahan kayak orang bego karna ramalan??” lanjut Beber. “Tapi, mengenai isi ramalannya, asyik dong...dua kali married.” Ledek Beber.
“Asyik?? Asyik jidat lo!” sentak Danka kesal. “Lo pikir gua suka apa dua kali married? Lo tuh yang demen. Kelihatan dari muke lo, mupeng!” kali ini Danka mulai ringan.
“Sejujurnya gua sih mau, hehehe.” Jawab Beber sambil melengos.
“Gara-gara lo nih.” Kembali Danka yang kesal.
“Loh, kok gara-gara gua sih??” semprot Beber sambil meletakkan tasnya di meja kantin.
“Ya iyalah...coba lo tadi enggak suruh gua minta kembalian, pasti Kang Wawan enggak bakalan ngebaca garis tangan gua!”
“Jadi, ini ramalan Kang Wawan?” tanya Beber dengan mimik enggak percaya.
Danka pun mengangguk, dan lepaslah tawa Beber sekali lagi. “ Wakakakakak...sumpeh lo! Gua enggak nyangka untuk ramalan beginian aja respon lo udah kayak diramal mau mati besok, sama Kang Wawan lagi.”
“Wajar kali...coba lo di posisi gua. Lagi pula, Kang Wawan kan terkenal dengan ramalannya yang jarang meleset.” Danka membela diri.
“Jarang meleset bukan berarti selalu tepat kan? Lagian masih lama kali Dan. Married yang pertama aja belum hehehe.” Hibur Beber.

“Lo tuh ya, bukannya nenangin pikiran gua malah ngaminin ramalan itu!”
“Lha, kapan gua aminin?” jawab Beber bingung.
“Emang otak lo! Saat lo ngomong married yang pertama, berarti lo secara enggak langsung uda menganggap bakalan ada yang kedua.” Terang Danka panjang lebar.
Beber hanya tersenyum melengos minta pengertian.
Sementara Beber sibuk dengan baksonya, Danka pusing dengan ramalan Kang Wawan. Dia mulai memikirkan adanya gen keturunan dua kali married di keluarganya. Dia coba mengingat-ingat: Namboru[1] kagak, Nanguda[2] kagak, Bapatua[3] kagak, Tante juga kagak. “Ckckck, asyik ramalan itu pasti enggak bakalan kejadian.” Batin Danka.
“Dan, gimana sepupu lo Dani? Kapan marriednya? Jadi disamain sama tanggal pernikahan yang pertama?” ucap Beber mematahkan kesimpulan Danka.
Gubrakk!!
“Ya ampunn...gua kelupaan Dani!” Teriak Danka tanpa berniat mengecilkan volume suaranya. Seketika mata orang-orang tertuju pada mereka. Beber yang sejalan dengan Paris Hilton: hidup ini terlalu singkat untuk tidak menjadi pusat perhatian, malah senyam-senyum kepada semua.
“Beber, thank you so much much much...lo udah ngingetin gua!” ujar Danka penuh semangat.
“Ngingetin apaan??” tanya Beber bingung.
“Ngingetin rencana pernikahan Dani yang kedua.”
“Bukan rencana Dan, emang pernikahan kali.” Jelas Beber.
“Pokoknya itu masih rencana, karna gua mau ngebatalinnya.”
Mendengar rencana gila Danka, bakso yang sedang dimakan Beber tertahan di tenggorokan.
Beber pun terbatuk-batuk. Bukan hal yang baru buat Beber mendengar rencana-rencana gila Danka. Tapi kali ini: membatalkan pernikahan Dani?? Beber merasa perlu mencari tahu penyebabnya, kalau perlu sekalian membatalkan niatnya juga.
“ Eits...tunggu dulu. Bukannya lo yang paling setuju dengan pernikahan yang kedua ini. Kata lo Dani terlalu muda dan terlalu sayang dibiarkan sendiri dengan segala kekayaannya untuk jadi duda. Lo juga yang bilang, sejak meninggalnya Teh Andra, Dani lebih pendiam jadi harus segera didampingi lagi. Kenapa sekarang lo yang mau ngebatalin?”
“Gua enggak mau pernikahan dia itu membuat jadi mungkin ramalan Kang Wawan. Nanti jadinya ada keturunan dua kali married dong di keluarga gua.” Jelas Danka.
“Jadi dari tadi lo masih mikir ramalan Kang Wawan??” tanya beber enggak percaya.
“Iya...” ujar Danka dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
“Ya ampun...Dan! Gua enggak nyangka lo yang produk asli zaman teknologi dan informasi ini masih percaya aja sama ramalan?? C’mon Dan, itu cuma ramalan yang enggak jelas runtungannya. Apa sih yang lo khawatirin?”
“Yaa..gua kepikiran aja, Noya kan pacar gua sekarang. Gua udah ngebayangin dia itu sosok pria masa depan gua. Masa bakalan ada yang ngegantiin? Gua enggak rela lah...”
“Belum tentu juga kan dia yang pertama, kali aja yang kedua.” Timpal Beber dengan lugunya.
“Iih...Beber! Sama aja kali. Gua mau dia jadi yang pertama dan terakhir.” Balas Danka senyam-senyum.
“Lo yang bilang kalo kita punya peluang yang sama buat berpikir yang terbaik dan terburuk untuk sesuatu yang belum terjadi. Dan untuk itu kita harus mikir yang terbaik. Nah, gua rasa sekarang waktunya buat lo praktekin kata-kata sakti lo itu.” Ujar Beber bijak.
“Waahhh Beber...tumben lo jadi bijak begini.” Puji Danka. “Emang enggak salah lo sahabatan sama gua. Hehehe...” Danka enggak mau kalah.
“Yee...dasar lo! Perasaan setiap kali muji gua pasti jatoh-jatohnya karna lo.”
“Hehehehe...” balas Danka.
“Sekarang uda enggak kepikiran lagi kan?”
“Ya, mendingan lah. Seenggaknya niat gua buat ngebatalin pernikahan Dani udah hilang.”
“Bagus deh...bentar lagi kuliah statistika nih, baterai lo harus on hehehe.” Jawab Beber sambil menghindari timpukan binder Danka.
“Sialan lo Ber, ternyata ada udang di balik batu.” Ujar Danka sambil mengejar langkah Beber.
“Udang di balik peyek Dan...hahaha” balas Beber.
Merekapun berlari kecil menuju kelas.