May 13, 2013

Pahlawan Tomcat

Tadi ada kejadian lucu di angkot. Dalam perjalanan pulang dari Perpustakaan Batu Api, gue naik angkot yang lagi ngetem di simpang pangdam--sesuatu yang biasanya enggak bakalan gue lakuin. Saat gue naik, di dalam uda ada 2 orang mahasiswi India asal Malaysia. Tunggu punya tunggu, menyusullah kemudian penumpang lain, ada 2 orang ibu bersama seorang bocah, seoarng mahasiswa, seperti anak kedokteran kalo dilihat dari pakaiannya, terus ada 2 orang mahasiswi anggun dan cantik. Saking cantiknya, gue sampe merhatiin cukup lama demi memastikan warna eye shadow dan lip balm or something (i don't know what's the name) yang dioleskan di bibirnya siapa tahu gue bisa nyoba". Maklum mood feminim gue lagi mendominasi. =)

Nah, seperti biasa, angkot yang ngetem itu enggak bakalan jalan kalo penumpangnya belum 7/5++. Kenapa plus plus? Untuk nyebut bangku kecil yang dekat pintu dan bangku yang di depan. #enggak penting ya. hehe.
Masa-masa lagi menunggu penumpang, tiba-tiba muncul seekor serangga. Gue enggak tahu jenis atau namanya, tapi sepertinya cukup berbahaya kalo dilihat dari penampakannya. Untuk mempermudah cerita gue, ini serangga kudu kita kasih nama, mari kita namakan TOMCAT.

awalnya si Tomcat terbang di kaca belakang dekat si mahasiswa kedokteran. 2 cewek cantik yang di depannya uda mulai ketakutan nihhh. Tapi si cowok berusaha terlihat santai. Jaim mennn. hihihi.
Setelah 2 cewek cantik mencoba mengusir tuh tomcat dengan kertas yg ada di tangan mereka, akhirnya tomcat nangkring di bawah bangku si cowok jaim. Nyaman nih ceritanya.

Enggak beberapa lama kemudian, tomcatnya muncul lagi. ngenggg. ngenggg. terbang ke sana sini. Berhubung tuh tomcat masih mengganggu, si cowok jaim mulai beraksi. Plak. pukulan pertama, gagal. Wussshh, pukulan kedua gagal lagi. akhirnya karena merasa ga nyaman dan ga savety 2 cewek cantik tadi turun dari angkot yang kagak jalan juga. sementara si cowok jaim masih berjuang melawan sang tomcat. semangat bro!

You know reader, kalo dilihat dari kelagatnya si cowok uda pengen turun juga. tapi melihat ekspresi ibu yang khawatir sama anaknya, si cowok jaim bela-belain "membunuh" si tomcat. cowok tangguh ceritanya.
Enggak beberapa lama kemudian, si tomcat berhasil dilumpuhkan. YEAIII! Si cowok jaim pun berubah jadi pahlawan. Hebatnya lagi nih, ternyata semua penumpang sedang menonton dia dengan serunya. waktu tuh tomcat berhasil dikalahkan semua pada senyum sumringah memuji sang pahlawan. Selamat bro! Sayang 2 cewek cantik yg sepertinya memotivasi sang pahlawan enggak melihat. hehe. #justshare @bebersagala


May 10, 2013

Uniknya Senat Mahasiswa Fikom Unpad (2)

Setelah disepakati bentukan Lembaga Tinggi berupa Sema, ad-hoc kemudian merancang content AD/ART Sema. Masing-masing pasal disepakati berdasarkan kebutuhan lembaga-lembaga di lingkungan Fikom. Adapun yang dijadikan rujukan adalah AD/ART dari beberapa fakultas baik dari Unpad sendiri (FK) maupun dari luar Unpad, seperti ITB, dll.

Kesulitan terjadi ketika ad-hoc membahas mengenai pimpinan lembaga. Diakui, UKM dan Hima di  Fikom memang sudah mandiri dan mampu memimpin, jadi tidak dibutuhkan kepemimpinan yang sifatnya Presidensial, di mana pengambilan keputusan dilakukan oleh satu orang yang diperankan oleh Presiden. Bila sistem senat mahasiswa umumnya seperti ini, namun tidak demikian dengan sistem Sema Fikom Unpad. Mengingat santernya isu adanya "pihak-pihak" yang mengincar kekosongan kekuasaan di Fikom, maka team merancang sistem "tersendiri" sesuai dengan kondisi dan kemauan lembaga-lembaga di Fikom. Mengapa gue sebut tersendiri? Kalo gue perhatiin sih kayaknya cuma Sema Fikom yang pake sistem begini.
Sistem di mana Senatornya adalah pelaksana fungsi legislatif bukan eksekutif sebagaimana harusnya. Fungsi eksekutifnya justru ada pada Dewan Pelaksana Harian. Nah, uniknya, Senator yang terdiri dari 20 lembaga dan seorang perwakilan jurusan Ilmu Komunikasi, dipimpin oleh seorang koordinator yang disebut presidium dengan masa kerja yang di-rolling per tiga bulan. Gue bisa jamin, sistem ini the only one di Indonesia. Gue berharap dengan sistem unik ini politik kampus Fikom bisa lebih baik lagi dan tentunya produktiffff! =)

Diskusi Di Meja Makan

Siang ini, selepas ibadah Paskah, gue sama Odel, dan Desti kembali dipertemukan dalam diskusi yang seru di meja makan di salah satu cafe and resto  Jatinangor. Seperti biasa, banyak hal yang kami perbincangkan, mulai dari kabar terpilihnya SBY sebagai ketua umum partai Demokrat, ilmu dan hal-hal lain yang berhubungan dengan psikologi, pengalaman-pengalaman selama job training, hingga sesekali menilai penampilan band-band yang sedang mengikuti audisi di cafe tersebut.

Setelah ngobrol serius tapi santai (nah, gimana tuh serius tapi santai?) menarik nih waktu Desti kasih tahu tentang konsep waktu. Ya, ini soal "keluh kesah" gue akan produktivitas yang gue rasa belakangan enggak produktif dan sedang mencari sesuatu (yang gue cintai) untuk dikerjakan/dilakukan. Bahasa kerennya passion.

Desti bilang, sebagai mahasiswa, resource yang kami punya adalah WAKTU dan TENAGA. kami belum memiliki uang layaknya orang yang sudah bekerja. Well, cerita lain kalo lo punya uang yang banyak dari orang tua. Kemudian nanti, kalau uda di dunia kerja; kita punya Uang dan Tenaga tapi enggak punya waktu, dan di usia senja, punya WAKTU dan UANG (Insyallah) tapi enggak punya tenaga. Nah, dari sini gue sadar masing-masing rentang waktu hidup kita uda ada bagiannya bro, sist. Gue yang selama ini keukehhh banget ngubek-ubek BO demi pundi-pundi $$$$ cukup diingatkan kalo WAKTU justru aset yang paling mahal yang gue miliki saat ini.

Bayangkan men, mau lo anak presiden kek, artis kek, cucunya alm Steve Jobs kek, waktu yang lo punya sama aja sam bocah-bocah di bawah jalan layang Jakarta yang ngemis hari esok. Tetep 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Semuanya sama bro sist! Yang membedakannya adalah cara lo menggunakan harta lo itu! So saran gue bro sist, bijak-bijak menggunakan waktu lo dan ilangin tu kebiasaan procrastinator!