SYMBOLIC CONVERGENCE THEORY
(TEORI KONVERGENSI SIMBOLIK)
Oleh Antar Venus
Pernahkah anda terlibat pembicaraan dalam
suatu kelompok yang anda merasa canggung berada didalamnya? Atau anda merasa
‘tidak nyambung’ dengan apa yang mereka perbincangkan? Atau kata-kata humor yang
mereka percakapkan tidak terasa lucu bagi anda, tapi membuat anggota lainnya tertawa
terbahak-bahak? Kalau pernah, maka beruntunglah
anda karena mengalami apa yang disebut oleh ahli komunikasi kelompok
sebagai ougroup feeling. Perasaan yang menjadikan anda sebagai outsider atau orang yang merasa berada
diluar kelompok.
Menurut Teori Konvergensi Simbolik--yang
nanti akan kita bahas, apa yang anda
rasakan itu normal adanya. Jadi sama sekali tidak ada yang salah dengan diri
anda. Persoalannya hanyalah terletak pada makna simbolik yang anda miliki
berbeda dengan makna kelompok. Karena masalah ini maka pembicaraan anda tidak mengalami
pemusatan makna dan akhirnya anda tidak
memberikan reaksi yang sama sebagaimana anggota lainnya.
Untuk memudahkan pemahaman anda tentang
apa yang saya maksudkan diatas, Sekarang cobalah anda maknai kata ”DITULIS
TANGAN” yang sering digunakan dalam kelompok diskusi saya. Adakah makna yang
lain selain kegiatan menulis dengan tangan? Kemungkinan besar tidak. Tapi kalau
anda mengatakannya kepada anggota kelompok diskusi saya, maka mereka akan tertawa
keras atau setidaknya tersenyum-senyum.
Fenomena komunikasi yang dalam istilah
Teori Konvergensi Simbolik disebut inside
joke ini, membantu kita menjelaskan mengapa proses pertukaran pesan antara
anda dan anggota kelompok diskusi tersebut
tidak memunculkan reaksi dan perasaan yang sama. Inilah yang dibicarakan
dalam teori konvergensi simbolik dari Ernest
G Bormann. Menurut Bormann gagasan pokok teori ini adalah bahwa bertukar fantasi—lelucon, cerita, analogi, ritual,
atau sekadar permainan kata-kata-- akan membawa pada pemusatan makna dan perasaan
dari orang-orang yang terlibat. Jadi jika sebelumya anda telah terlibat
dengan tema-tema fantasi yang berkembang dalam kelompok tersebut, niscaya anda
akan memiliki perasan yang sama dan memberikan reaksi yang serupa sebagaimana
anggota kelompok lainnya. Bila mereka tertawa karena ada lontaran inside joke, maka andapun akan begitu.
Tapi ketawa anda bukan karena ikut-ikutan melainkan karena gambaran atau makna
tentang joke itu dalam kepala anda
sama dengan yang ada dalam benak anggota kelompok lainnya.
Bila anda belum puas dengan
penjelasan diatas dan masih tertarik untuk mengetahui teori ini lebih lanjut, Berikut
adalah uraian yang relatif lengkap tentang
teori tersebut dengan cakupan bahasan meliputi riwayat kemunculan teori,
pokok-pokok teori, dan aplikasi serta evaluasinya.
LATAR BELAKANG TEORI
Kemunculan Symbolic Convegence
Theory (selanjutnya disingkat SCT) atau diIndonesiakan menjadi Teori Konvergensi
Simbolik (TKS) diilhami dari hasil riset Robet Bales mengenai komunikasi yang berlangsung dalam
kelompok-kelompok kecil. Pada penelitian yang dilakukan tahun 1950-an tersebut Bales
sebenarnya memfokuskan penyelidikannya pada perilaku anggota kelompok yang terkait
dengan cara mereka mengakomodasi
informasi yang diterima dan menggunakannya untuk membuat suatu keputusan dalam
kelompok . Namun dalam proses tersebut Bales menemukan kenyataan lain yang juga
menarik minatnya yakni adanya kecenderungaan anggota-anggota kelompok menjadi
dramatis dan kemudian berbagi cerita ketika kelompok mengalami ketegangan. Menurut
Bales (Kidd, 2004) Cerita-cerita tersebut—yang diantaranya meliputi lelucon, kisah,
ritual, perumpamaan atau permainan kata-kata-- ternyata memiliki fungsi yang penting
dalam mengurangi ketegangan kelompok (tension
release) bahkan mampu meningkatkan kesolidan kelompok. Bales menyebut
fenomena ini sebagai Fantasy theme. Ernest
Bormann (Littlejohn, 1996) kemudian meminjam gagasan tersebut untuk direplikasikan
kedalam tindakan retoris masyarakat dalam skala yang lebih luas dari sekadar proses komunikasi dalam kelompok kecil.
Penelitian-penelitian yang dilakukan Bormann secara intensif sepanjang tahun
1970-an tersebut kemudian bermuara pada munculnya Teori Konvergensi Simbolik.
SCT untuk pertama kalinya diuraikan oleh Bormannn dalam tulisannya yang bertajuk “Fantasies and Rhetorical
Vision: The Rhetorical Criticism of Social Reality” yang diterbitkan dalam quartely journal of Speech tahun 1972. Sejak
itu Bormann menulis puluhan artikel dan laporan penelitian yang
menggunakan SCT sebagai landasan teoritisnya dan Fantasy Theme Analysis (FTA)
sebagai metodenya dengan fokus pada kohesivitas dan budaya kelompok, pengambilan
keputusan dalam kelompok, penyanderaan, kartun politik hingga kampanye politik.
Tulisan bormann lainnya yang secara
khusus dan lengkap berbicara tentang SCT adalah “Symbolic Convergence Theory
: A Communication Formulation” yang diterbitkan dalam Journal of Communication edisi musim gugur tahun 1985.
Meski teori ini dapat diaplikasikan
pada berbagai konteks komunikasi, namun sebagai mana dikemukakan diatas penelitian-penelitian
awal yang kemudian memunculkan teori ini berlangsung dalam konteks komunikasi
kelompok. Dengan demikian tidak mengherankan bila kemudian para pakar
komunikasi seperti Griffin (2003:510), Salwen
& Stacks (1996), Hirokawa & Poole, (1986) dan Miller (2002) menempatkan
teori ini dalam konteks komunikasi kelompok. Bahkan menurut Frey & Poole
(1999) teori ini merupakan teori yang paling komprehensif dan akurat dalam menjelaskan hubungan antara komunikasi dan proses
pengambilan keputusan dalam kelompok.
POKOK-POKOK TEORI
Bormann (1985) menyatakan bahwa teorinya dibangun dalam kerangka paradigma
Narratif yang meyakini bahwa manusia merupakan Homo Narrans yakni makhluk yang saling bertukar cerita atau narasi untuk menggambarkan
pengalaman dan realitas sosialnya. Vasquez (Zeep, 2003) menjelaskan bahwa Homo Narrans merupakan prinsip dasar bahwa manusia sebagai “social storytellers” yang berbagi
fantasi dan kemudian membangun kesadaran kelompok dan menciptakan realitas
sosial. SCT menegaskan bahwa solidaritas dan kohesivitas
kelompok dapat dicapai melalui kecakapan bersama dalam membaca dan menafsirkan
tanda-tanda, kode-kode dan teks-teks budaya. Hal ini membawa kepada
terbentuknya realitas bersama (Shared
reality).
Sebagai teori yang berparadigma narratif maka penelitian yang menerapkan
teori ini lebih mementingkan pengumpulan data interpretif ketimbang data
kuantitatif sebagaimana dikembangkan dalam teori berparadigma rasional. Karena sifatnya yang demikian maka metode penelitian yang umumya digunakan dalam kerangka
paradigrma ini mencakup Studi kasus,
analisis retoris atas catatan dan dokumen kelompok, serta Analisis
terhadap berbagai cerita yang berkembang didalam dan diantara anggota suatu kelompok
(Bormann, 1986).
Watson dan Hill (2000: 304-305) menjelaskan
perbedaan paradigma rasional dan naratif sebagai payung suatu teori komunikasi
dengan membedakan pada keyakinan tentang
realitas. Menurut paradigma rasional realitas
itu bersifat tunggal. Ada
satu kebenaran yang bersifat objektif yang dapat dijadikan pegangan untuk
menilai atau menguji satu argumentasi dan logika. Karena keyakinan yang seperti
ini maka proponen paradigma ini menganggap fantasi atau mitos sebagai sesuatu yang
tidak benar, suatu kebohongan belaka. Sebaliknya para pendukung paradigma
naratif menganggap fantasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Oleh mereka fantasi tidak diartikan sebagai kebohongan, melainkan sebagai
tindakan sadar yang kreatif dan imaginatif dalam memberikan makna terhadap berbagai
peristiwa yang terjadi. Disini fantasi memiliki nilai kebenarannya sendiri terggantung
pada subyek yang mempercayainya. Paradigma naratif berkeyakinan bahwa realitas
itu bersifat majemuk dan kebenaran dikonstruksi secara intersubjektif. Sampai disini kita akhiri saja pembahasan
tentang paradigma naratif yang menjadi
payung teori ini. Sekarang marilah kita membahas apa sesungguhnya yang dimaksud
dengan teori konvergensi simbolik itu.
Bormann menyatakan bahwa Teori Konvergensi Simbolik adalah teori umum (general theory) yang
mengupas tentang fenomena pertukaran pesan yang memunculkan kesadaran kelompok yang beimplikasi
pada hadirnya makna, motif dan perasaan
bersama (Hirokawa dan Poole, 1986; 219). Penjelasan Bormann di atas
tampaknya masih agak sukar dicerna, tapi maksudnya sederhana saja yakni teori
ini berusaha menerangkan
bagaimana orang-orang secara kolektif membangun kesadaran simbolik bersama melalui
suatu proses pertukaran pesan. Kesadaran simbolik yang terbangun dalam proses
tersebut kemudian menyediakan semacam makna, emosi, dan motif untuk
bertindak bagi orang-orang atau kumpulan orang yang terlibat didalamnya. Sekumpulan
individu ini dapat berasal dari kelompok orang yang telah saling mengenal dan berinteraksi dalam
waktu yang relatif lama atau orang-orang yang tidak saling mengenal dan memiliki cara berbeda
dalam menafsirkan lambang yang digunakan tapi mereka kemudian saling
berkomunikasi sehingga terjadi konvergensi yang pada gilirannya menciptakan realitas simbolik bersama . Dengan demikian proses konvergensi
dapat muncul bukan hanya dalam kelompok kecil yang relatif saling mengenal,
tapi juga dapat terjadi dalam rapat akbar, atau saat seseorang mendengarkan ceramah
atau ketika kita menikmati film dan iklan politik ditelevisi.
Dalam
teori ini, Bormann (1990:106) mengartikan
istilah konvergensi (convergence)
sebagai suatu cara dimana dunia simbolik
pribadi dari dua atau lebih individu menjadi saling bertemu, saling mendekati
satu sama lain atau kemudian saling berhimpitan ( the way in which the private symbolic worlds of two or more people
begin come together or overlap). Sedangkan istilah simbolik sendiri terkait
dengan kecenderungan manusia untuk memberikan penafsiran dan menanamkan makna kepada berbagai lambang, tanda, kejadian yang
tengah dialami, atau bahkan tindakan yang dilakukan manusia (Bormann, 1986:
221). Dalam kaitan ini Bormann juga menyatakan bahwa manusia adalah symbol-users
dalam arti bahwa manusia menggunakan
symbol dalam komunikasi secara umum dan dalam storytelling (bercerita).
Lewat simbol-simbol inilah manusia saling mempertemukan pikiran mereka.
Ketika
kelompok berbagi simbol bersama ,
komunikasi menjadi lebih mudah dan efisien. Disini Para ahli TKS mengasumsikan
hadirnya semacam “a meeting of mind’ atau perjumpaan pikiran (Infante.et.al.,
1993:130). Ketika pikiran saling bertemu maka orang mulai bergerak kearah penggunaan
sistem simbol yang sama dan ini akan meningkatkan saling pengertian diantara
orang-orang yang terlibat. Saling pengertian inilah yang kemudian menjadi dasar terciptanya kesadaran bersama serta
kesamaan pikiran dan perasaan tentang hal-hal yang diperbincangkan.
Dalam artikelnya
berjudul “Symbolic Convergence Theory: A Communication Formulation” (1985) Bormann
menyebutkan tiga aspek atau struktur penting yang membentuk bangunan teori ini
yakni ; (1) Penemuan dan penataan bentuk dan pola komunikasi yang berulang yang
mengindikasikan hadirnya kesadaran bersama dalam kelompok secara evolutif. (2)
deskripsi tentang kecenderungan dinamis dalam sistem komunikasi yang
menerangkan mengapa kesadaran kelompok muncul, berlanjut, menurun dan akhirnya
menghilang, dan (3) faktor-faktor yang menerangkan mengapa
orang-orang terlibat dalam tindakan berbagi fantasi.
Disamping ketiga
struktur pokok teori diatas, Bormann
juga menyebutkan dua asumsi pokok
yang mendasari teori Konvergensi simbolik. Pertama, realitas
diciptakan melalui komunikasi. Dalam hal ini komunikasi menciptakan realitas melalui
pengaitan antara kata-kata yang digunakan
dengan pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan asumsi
kedua menyatakan bahwa Makna individual
terhadap simbol dapat mengalami konvergensi (penyatuan) sehingga menjadi realitas bersama. Realitas dalam teori ini dipandang sebagai susunan narasi atau
cerita-cerita yang menerangkan bagaimana
sesuatu harus dipercayai oleh orang – orang yang terlibat didalamnya. Cerita
tersebut semula dibincangkan dalam kelompok
dan kemudian disebarkan kelingkungan masyarakat yang lebih luas.
Menyertai kedua asumsi pokok diatas Bormann (1986) juga menyebutkan enam asumsi
epistemologis teori ini yakni (1) Makna, emosi dan motif bertindak ada pada isi
pesan yang ternyatakan dengan jelas, (2) Realitas diciptakan secara simbolik,
(3) Rantai fantasi menciptakan konvergensi simbolik dalam bentuk dramatistik,
(4), analisis tema fantasi adalah metode pokok dalam menangkap relitas
simbolik, (5) tema fantasi dapat terjadi dalam berbagai wacana yang
dikembangkan dan terakhir (6) terdapat
tiga Visi analog Master yakni ; Righteous,
social dan pragmatic
Teori Konvegensi simbolik dibangun dengan melandaskan pada gagasan bahwa anggota-anggota kelompok harus bertukar
fantasi untuk dapat membentuk kelompok
yang kohesif. Dalam teori ini
fantasi diartikan sebagai interpretasi yang kreatif dan imajinatif
terhadap berbagai peristiwa yang memenuhi kebutuhan psikologis dan retoris (The creative and imaginative of narratives
explaining how things are believed to be) (Bormann, 1990). Jadi istilah
fantasi tersebut bukan merujuk pada cerita
fiksi, hal-hal yang tidak nyata seprti dalam film kartun, atau kisah kisah tentang peri, atau juga
hasrat-hasrat yang bersifat erotik. Fantasi lebih diartikan sebagai cerita,
satire, perumpamaan, kenangan masa lalu, pengalaman, atau lelucon yang memiliki
muatan emosi. Fantasi mencakup
persitiwa-peristiwa masa lalu anggota kelompok, atau kejadian yang mungkin
terjadi pada masa yang akan datang. Fantasi-fantasi tersebut tidak termasuk apa
yang sedang tejadi dalam kelompok “saat ini dan disini”. Sebagai contoh kalau
anton anggota tim kreatif dalam biro iklan
dan bercerita tentang gagasan yang telah ia buat untuk diiklankan pada
koran kompas edisi minggu. Disini Anton tidak dianggap mengemukakan fantasi, karena
ia hanya mendiskusikan pekerjaan yang tengah dilakukan. Lain hanya kalau ia
bercerita bahwa dua hari yang lalu ia membaca
artikel dimajalah usahawan yang menceritakan sepuluh iklan makanan yang paling
populer di Jepang yang menghsilkan bonus besar bagi para pembuatnya, disini
anton telah menyampaikan fantasi.
Sebulan
yang lalu, Pak Udung, Venus, Pak Asep, Hasbi dan Pak Wito berdiskusi rutin tentang teori-teori
komunikasi dikediaman P.Udung di Margahayu Raya. Dalam diskusi tersebut kami
juga mengembangkan apa yang disebut Bormann sebagai Tema fantasi. Setelah berdiskusi selama hampir dua jam, tiba giliranya saya
menjelaskan teori Anxiety/Uncertainty
Management Theory. Saat saya menyingkat teori itu dengan istilah AUM, kontan
Pak udung nyeletuk “nama teorinya
kayak anjing saya aja si- Rottwieller
yang bisa mengaum. Seketika itu juga
Komentar P. Udung disambar P.Wito dengan
berkata “gimanaaa… kalau anjingnya dibawa
ke kampus waktu kuliah bu Ninaa…” Pak Asep langsung menimpali dengan gaya
kebapakkannya ” Jangan bikin masalah…gimana kalau nggigit mahasiswa” mendengar
ucapan P. Asep tanpa sadar saya langsung berkomentar “kalau ngegigit mahasiswa…bisa-bisa
anjingnya digantung di Pohon komunikasi.
Kontan Tawa meledak diantara kami. Sebagai mahasiswa program Doktor Komunikasi,
kami semua akrab dengan Konsep POHON KOMUNIKASI yang dikonstruksi oleh Prof. Nina Syam. Oleh karena itu mudah saja
bagi konsep ini menjadi tema fantasi diantara kami. Setelah Humor terjadi diantara kami terasa suasana segar kemabli dan kami melanjutkan dengan
lelucon dan cerita-cerita yang lain selama hampir lima belas menit sebelum akhirnya kembali
berdiskusi. Pengalaman tersebut Rasanya tidak asing dalam kesehaian hidupkita,
dan itulah arti penting TKS yakni memberikan pemahamana bahwa obrolan, lelucon,
atau gosip yang dilakakun dalam suatu klompok – baru terbentuk atau sudah lama
berdiri—mmiliki fungsi kohesivitas dan penguatan kesadarn kelompok.
Karena konsep fantasi menjadi
kata kunci dalam teori ini maka Boorman kemudian menyabut metode untuk mngoperasionalkan
teorinya dengan istilah Fantasi Theme
Analysis (FTA) atau analisis tema fantasi. Untuk memahami FTA maka langkah
pertama yang perlu ditempuh adalah mmahami terlebih dahulu istilah-istilah
kunci dalam FTA yakni; Fantasy theme,
Fantasi chain, Fantasy type, dan Rhetoical visions
Fantasy theme/Tema fantasi
:
- Bormann mendefinisikan
tema fantasi sebagai isi pesan yang didramatisasi yang memicu rantai
fantasi (the content of the dramatizing
message that sparks the fantasy
chain).
§ Menurut Miller (2002:231) konsep pokok dalam KTI adalah Fantasy
theme (tema fantasi) yng diartikanya sebaga dramatisasi pesan—dapat berupa
lelucon, analogi, permainan kata, cerita dan sebagainya—yang memompa semangat
berinteraksi. Dramatisasi pesan tidak terjadi dalam konteks tugas atau
pekerjaan yang tengah dihadapi. Dramatisasi pesan juga tidak terjdi padaperistiw yang berorientasi pada
“saat ini dan disini”. Segala tindakan komuniksi yang membicrakan bebagi tindakan
atau kegiatan yang tejadi pada saat
peristiwa tersebut berlangsung tidkalah memiliki mutn imaginatif. Pembicaraan
tersebut bersifat nyata karena berkaitan
dengan aspek “kekinian dan disini” dan semata-mata membicarakan tugas atau kegiatan
yang tengah dihadapi kelompok. Lain halnya bila anda memperbicangkn peristiwa yang terjadi diluar
kelompok, atau membicarakan peristiwa serupa yng dialami anggota kelompok pada
masa lalu, atau berbicara tentang sesuatu
yag terkait dengan masa depan, maka itu dapat dikategorikan sebagai fantasi. Misalnya
konflik yang muncul dalam pertemuan kelompok
mungkin dilihat sebagai peristiwa dramatis, namun ini bukanlah dramatisasi
pesan atau tema fantasi karena karena hal itu terjadi dalam konteks “saat ini
dan disini”, sementara bila dalam kaitan tersebut kita bercerita tentang
konflik yang pernah terjadi pada masa lalu, atau bercerita tentang konflik dalam film Braveheart, maka ini dapat dikategorikan sebagai fantasy theme.
Fantasi chain :
§ Secara harfiah diartikan sebagai rantai Fantasi. Maksudnya ketika pesan
yang didramatisasi berhasil mendapat tanggapan dari partisipan komunikasi dan
akhirnya meningkatkan intensitas dan kegairahan partisipan dalam berbagi
fantasi yang bekembang maka terjadilah rantai fantasi. Ketika rantai fantasi tecipta tempo percakapan
menjadi meningkat, antusiasme partisipan muncul, dan terjadi peningkatan rasa empati
dan umpanbalik diantara partisipan komunikasi.
§ Bomann (1990: 101-120) sendiri menggambarkan rantai fantasi ‘…as a series of ideas that members link
together like a play”.
§ Rantai fantasi membawa partisipan yang saling berbagi cerita kedalam
konvergensi simbolik dan menciptakan
landasan pengertian bersama dan memampukan kelompok mencapai komunikasi
yang empatik sekaligus terjadinya a
meeting of mind.
Fantasy type/Jenis fantasi:
- Bormann mengartikan
konsep ini sebagai tema-tema fantasi yang
berulang dan dibicarakan pada sisuasi lain, dengan karakter lain
dan latar yang lain namun dengan
alur cerita yang sama. Jika kerangka narasi (the narrative frame)nya sama
namun tokohnya, karakternya atau settingnya berbeda maka itu dapat dikelompokkn
dalam satu jenis fantasi yang sama. Sementara bila terdapat beberpa tema fantasi
atau kerangaka narasi yang berbeda maka berarti terdapat beberapa jenis
fantasi.
- Menurut Trenholm
(1986) jenis fantasi adalah suatu
kerangka narasi yang bersifat umum yang terkait dengan pertanyaan atau
masalah tertentu. Misalnya pertanyaan; Anda tahu kan
watak dekan kita? “Buat apa
pake rapat segala toh hasilnya kita udah tahu”
- orang-orang yang telah
berinteraksi dalam waktu yang cukup lama biasanya telah mengembangkan
semacam symbolic Cue atau petunjuk
simbolis yang biasanya telah dipahami bersama. Symbolic cue ini biasanya menjadi inside joke (lelucon yang dipahami oleh orang –orang yang terlibat
dalam percakapan sebelumnya. Kalau anda pernah berkumpul dengan
kawan-kawan anda, dan tiba-tiba seseorang berkomentar dengan mengatakan ‘sesuatu’
lalu yang lainnya tertawa terpingkal-pingkal maka mereka terlibat dalam
penggunaan symbolic cue.
Sementara anda sendiri yang tidak tertawa merasa orang luar yang tidak
memahami petunjuk simbolik tersebut
§
Bormann (1990) juga membandingkan suatu tipe fantasi yang seringkali terulang di dalam
kultur sebuah kelompok. Partai politik di Amerika Serikat misalnya, menjaga kesatuannya dengan suatu jenis
fantasi yang sama. Anggota partai Republik sering muncul dengan jenis impian
dan pandangan yang sama mengenai partai lawannya, yaitu suatu konsepsi bahwa
partai Demokrat adalah partai yang terlalu liberal, tidak bertanggungjawab
secara fiskal, pencipta inflasi, ketidakseimbangan anggaran serta kekacauan
ekonomi. Partai Demokrat pada sisi lain memandang partai Republik sebagai
partai yang konservatif, digerakkan oleh dan untuk kepentingan
perusahaan-perusahaan besar, serta tidak berpihak kepada buruh dan rakyat
miskin.
Rhetorical visions (Visi Retoris)
:
- Diartikan sebagai sharing a fantasy theme and types
across a wider community. Disini
tema-tema fantasi telah berkembang dan melebar keluar dari kelompok
yang mengembangkan fantasi tersebut pada awalnya. Karena perkembangan
tersebut maka tema-tema fantasi itu menjadi fantasi masyarakat luas dan
membentuk semacam Rhetorical
Community.
- Dalam masa Orde Baru
kita melihat betapa pemerintahan Soeharto secara efektif dan sistematis
berhasil menciptakan tema-tema fantasi yang kemudian menjadi visi retoris pada
masa itu sepeti “Suprsemar”, “Pancasila Sakti”, “Pembangunan” atau visi
retoris “Tinggal Landas” yag kemudian sing dipelesetkan menjadi “Tinggal
Kandas’ oleh kelompok masyarakat yang tidak tergabung dalam Komunitas
retoris ini.
Disamping
keempat konsep kunci diatas, Bormann juga menjelaskan bahwa dalam setiap analisis tema fantasi atau yang lebih luas lagi dalam visi retoris selalu
terdapat empat elemen pokok berikut;
tokoh-tokoh yang terlibat (dramatis
personae atau character), alur
cerita (plot line), latar (scene), dan agen penentu kebenaran
cerita (sanctioning agents). Tokoh pemeran dalam cerita tersebut dapat
berupa pahlawan, penjahat dan pemain
pendukung lainnya. Sedangkan alur cerita merupakan rangkaian cerita yang dikembangkan dan
tindakan-tindakan apa yang dilakukan. Pada aspek Latar tercakup didalamnya lokasi, berbagai
peralatan atau perlengkapan yang terkait, serta aspek sosio-kultural
yang ada dalam latar terkait. Terakhir adalah
sanctioning agents yang
berkitan dengan sumber-sumber yang akan melegitimasi kebenaran cerita. Sumber tersebut
dapat berupa tokoh agama yang membenarkan cerita itu secara keagamaan, Seorang
bapak Bangsa seperti Soekarno atau sumber-sumber nilai yang dapat dijadikan
patokan atau sandaran untuk membenarkan
cerita yang dirangkai. Dalam kasus kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU),
kita sering melihat para pimpinan Tanfidziah organisasi ini termasuk Gus Dur
mencari legitimasi atas tema-tema fantasi yang dikembangkannya dengan mengutip
pendapat dan pesetujuan kelompok Kyai Langitan di Tuban Jawa Timur
Keempat
elemen pokok diatas yang dalam istilah Bormann
(Morris & Buchanan, 2000) disebut dengan istilah Dramtistic Structural Elements memang terasa mirip dengan
elemen-elemen pokok dalam teori Dramatisme dari Kenneth Burke. Pada
kenyataannya memang demikian, Bahkan Morris
dan Buchanan (2000) lebih lanjut menyatakan bahwa kajian-kajian komunikasi yang bersifat humanistik
memang cenderung menggunakan sudut pandang dramatistik. Empat tokoh terkemuka yang menerapkan sudut pandang ini adalah Kenneth
Burke, Erving Goffman, Walter Fisher dan Ernest Bormann. Keempat tokoh ini, lanjut Morris dan Buchanan, menggunakan Dramatistic viewpoint dengan cara berbeda. Burke misalnya memusatkan
analisis dramatismenya pada elemen-elemen ; Act,
Agent, agency, Scene, dan purpose
yang kesemuanya bermuara pada motif-motif yang dilekatkan pada simbol-simbol
yang digunakan. Fisher dalam narative paradigm menekankan aspek
koherensi naratif dan keakuratan naratif. Sedangkan Goffman menekankan elemen-elemen
ritual dalam interaksi sosial yang analisisnya
meliputi aspek Role enactment, places,
scenes dan Facework. Bormann
menggunakan sudut pandang Dramatistik secara berbeda yakni dengan memusatkan perhatiannya kepada Pesan sebagai
unit analisisnya serta proses komunikasi
diantara partisipan yang memunculkan
konvergensi fantasi, makna dan realitas simbolik diantara mereka. Jadi dalam
perspektif Bormann yang menjadi premis pokoknya adalah bagaimana orang
–orang berbagi realitas bersama.