Mahasiswa Bunglon Versus Mahasiswa Kupu-kupu
Oleh: Berliana Sagala
Istilah kupu-kupu di dunia kampus mungkin sudah tidak asing lagi bagi beberapa orang. Ya, kupu-kupu yang dimaksud merupakan singkatan dari kuliah/pulang-kuliah/pulang, sebutan bagi mahasiswa yang umumnya: study oriented, (istilah saya) kepompongnya perpustakaan, dan menarik diri dari kegiatan di luar perkuliahan. Mahasiswa seperti ini juga cenderung tidak peduli dengan sekitarnya, hanya mementingkan nilai dan ingin secepatnya menyelesaikan perkuliahan. Kegiatannya hanya belajar (teori) melulu.
Sementara itu, akhir-akhir ini, saya juga melihat jenis mahasiswa baru, yang saya sebut dengan: mahasiswa bunglon. Mahasiswa jenis ini adalah mahasiswa labil yang selalu berubah, tidak tetap pendiriannya, dan selalu berusaha mengikuti apa yang terjadi. Mahasiswa yang tahunya hanya dandan, mengikuti trend, kuliah ogah-ogahan, dan tidak mau tahu dengan lingkungannya.
Fenomena di atas, semakin hari semakin kelihatan orang-orangnya. Sedihnya, mahasiswa yang dari daerah, misalnya mahasiswa Batak, yang dibekali dengan pola berpikir kritis, dibentuk di lingkungan yang “vokal” dan cenderung mengabaikan hal-hal remeh seperti tata rias, justru ikut-ikutan dengan mahasiswa-mahasiswa ini. Keadaan ini menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan di tengah-tengah kondisi bangsa yang memerlukan pemimpin-pemimpin yang tegas, bertanggung jawab, dan kritis dalam berpikir. Kondisi ini juga sekaligus menjawab mengapa pemimpin-pemimpin bangsa kita bermental lembek.
Mahasiswa-mahasiswa jenis ini pula menyumbangkan peran dalam mencoreng dunia kampus sebagai jenjang tertinggi dalam dunia pendidikan. Peran kampus sebagai tempat pembentukan pemimpin-pemimpin bangsa juga seolah cacat karenanya.
Setiap orang memang mempunyai hak dan idealisme masing-masing. Tetapi hal ini menjadi riskan di negara kita yang memerlukan mahasiswa-mahasiswa yang “vokal” dan mau tahu dengan nasib bangsanya. Mahasiswa yang merupakan agen perubahan, pengawas pemerintah, lidah rakyat, dan sebutan-sebutan hebat lainnya. Bukan mahasiswa yang tahunya cuma dandan, menggosip, copy-paste tugas, dan mengkritik dosen atau pemerintah tetapi tidak tahu apa yang dikritik. Sejak peristiwa jatuhnya pemerintahan Orde Baru, belum ada lagi peran mahasiswa yang luar biasa. Pergerakan mahasiswa seolah ikut tenggelam dalam lumpur Sidoarjo.
Untuk menghindari atau setidaknya mengurangi mahasiswa kupu-kupu atau bunglon, marilah kita mulai dari diri sendiri. Nilai dan soft skill pastilah bisa berjalan berdampingan. Toh banyak juga mahasiswa yang pada akhirnya berhasil di masa depan bukan karena IPK yang tinggi, tetapi karena pengalaman dalam berorganisasi. Sangat disayangkan bila dunia perkuliahan yang sangat luas dan menawarkan banyak pengalaman ini berlalu begitu saja.
Saya kira orang-orang akan setuju dengan pendapat saya, bahwa dalam hidup perlu juga kita merasakan pengalaman-pengalaman yang membuat kita tidak nyaman—biasanya hal ini yang menyebabkan mahasiswa enggan mengikuti kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan. Hidup yang lurus-lurus saja tidak akan membuat kita lebih bijak dan lebih berkarakter. Pilihan lingkungan yang menawarkan, tetapi keputusan ada di tangan kita. Jadilah mahasiswa-mahasiswa yang bermental baja demi terciptanya pemimpin-pemimpin bangsa yang tegas, bertanggung jawab, dan tidak labil.
No comments:
Post a Comment