November 02, 2011

Satu dari Cinta
Oleh: Berliana Sagala
Well, aku memang mendambakan seorang pacar dan selalu berharap tentang sebuah kisah. Tapi aku enggak minta kisah cinta yang seperti ini. Cinta yang...akh, bahkan untuk menyebutkannya saja rasanya aku mual. Oh, my God, mengapa dia and what’s wrong with me? Maaf, untuk yang satu ini aku sulit jujur sama perasaanku. Ok! Aku memang harus jujur. Aku rindu mendengar suaranya, melihat wajahnya, hidung bangirnya, dan caranya melarangku untuk menyebrang sendiri di jalan raya. Untuk yang terakhir aneh banget bukan? Tapi itulah dia, sosok yang belakangan selalu kuharapkan dalam mimpiku dan membawaku jauh ke dunia khayal yang terkadang amoral. (Maaf)
Cukup sehari teman, rasa itu, sesuatu yang tak terdefinisi, mengetuk pintu hatiku. Awalnya kuabaikan saja. Ternyata hatiku yang sempat dibawa pergi sama Oghi sudah kembali. Dan terbukalah lebar-lebar pintu hatiku. Tapi kok bentuknya beda? Mudah-mudahan masih ada kemungkinan lain. Aku masih berharap ini cuma pelarian―perasaan yang keliru. Perasaan yang ada karena gregetan pengen punya pacar setelah terjerembab dalam penyesalan panjang, ditambah efek dari drama korea yang kutonton, yang membuatku ingin berkasih-kasihan.
Begini ceritanya...
30 April
Setelah nyaris seminggu terpuruk, stress mikir persepsi, hari ini tertawa lepas sendiri. Bukan sesuatu yang kocak, tapi dia punya sensasi, anugerah buatku hari ini. Sayang Danka merasa terasing, tak mengerti arah diskusi. Tapi, masa iya Danka enggak ngerti? Mungkin mengerti, tapi menolak pusing sendiri. Diam jadi pilihan. Baguslah.
Aku mulai merasa ada yang enggak benar saat dia tertawa, aku bahagia. Saat dia mencubit lenganku dengan gemas karena sikapku yang berkeras hati mempertahankan argumenku yang jelas-jelas salah, rada sakit, tapi aku ingin dicubit lagi. Saat aku berkeinginan membayar makanannya. (Asal tahu saja, aku paling pelit daripada Paman Gober.) Saat aku merasa cemburu dengan Danka yang duduk di sebelahnya, sementara aku hanya bisa duduk berhadapan dengannya, meskipun kusadari untuk yang satu ini aku cemburu tanpa alasan. Saat aku mulai gelisah ketika makanannya sudah akan habis, pertanda kami akan segera ke perpustakaan dan dia akan sibuk dengan buku-bukunya. Benar-benar ada yang salah di dalam hati ini.
“Hidup itu enggak boleh pesimis! Lagian aku yakin kok kamu (ehm, sepengetahuanku, dia enggak pernah pakai “kamu” sama teman-teman yang lain) pasti bisa. Untuk sesuatu yang masih jauh di depan, kenapa harus diambil pusing? Nyantai aja, ntar juga seiring waktu kamu bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Kayaknya bukan kamu banget deh, Cha? Masa menyerah sih?! Ke mana Miss Kredibel yang aku kenal?” ucapnya panjang lebar dengan sikap meyakinkan.
“Ok, ok Nona Bahagia, aku pertimbangkan lagi deh! Tapi jujur, aku emang sulit banget ngikutin hal-hal yang berbau teknologi. Serius!” jawabku mengutarakan kekhawatiranku.
“Kita ini besar di zaman teknologi, pasti bisalah kalau sekedar photo shop sama corel draw. Terkadang kamu terlalu mendramatisasi keadaan, padahal belum juga dicoba. Daripada nanti kamu ternyata salah jurusan, udah siap mempertaruhkan masa depanmu? Jangan sampai salah deh. Lebih baik kamu pikirkan matang-matang!” Nanda mencoba bijak.
Kenapa dia tiba-tiba jadi Mario Teguh ya? Begini nih, kalau bergaul sama si Danka, bawaannya ngomongin yang berat melulu. Lihat aja dari pilihan katanya, “mendramatisasi”, biasanya juga mendramatisir. Tapi enggak apa-apalah, selama dia bisa lebih lama berbicara denganku, aku rela mendengar kata-kata EYD-nya. Bahkan kalau dia mau berpidato sekalipun, aku rela. Emang cinta aneh banget.
“Emang sih, aku lebih suka jurusan jurnalistik. Apalagi dengan gayaku yang cuek dan cenderung tomboi. Public Relations terlalu feminim untukku, lagipula aku suka menulis, seenggaknya udah ada modal dasarlah... Oh iya, belum lagi konsep enam B-nya PR, waduhh, pusing duluan mah...”
“Apaan tuh enam B?” tanya Danka yang sedari tadi memilih diam.
Kenapa sih dia harus terlibat dalam pembicaran ini? Hhuu..aku tarik lagi deh enam B-nya!
Danka, awalnya, karena kaca matanya yang bulat dan setebal pantat botol, dijudge teman-teman sebagai mahasiswi berorientasi IP empat, kepompongnya perpustakaan, dan anak Bu Dila, dosen Bahasa Indonesia dengan basic Ilmu Filsafat yang sangat kritis. Seiring waktu, ternyata penilaian itu enggak keliru. Di kelas kalau ada presentasi dan debat pasti deh ni orang yang jadi suhunya. Pada sesi tanya-jawab enggak usah dipilih kalau belum menguasai materi, kalau masih ada yang angkat tangan, pilih yang lain aja daripada entar malu-maluin enggak bisa jawab. Tapi dia selalu aja merendah. Mempraktekkan ilmu padi kali ya, makin berisi makin merunduk!
“Plesetan PR yang gua buat bareng Anis dan Ayu. Beauty, brain, behavior,behel, Black Berry, B yang terakhir, bicara...” terangku dengan uring-uringan, berharap Danka enggak bakalan nanya-nanya lagi.
“Oh...tapi boleh juga tuh! Anak PR banget tuh enam B! Julukan yang keren.” Danka manggut-manggut, kagum dengan plesetan, yang ngasal banget kita buatnya.
Enggak nyangka si mahasiswa orientasi IP empat yang celit pujian (biasanya kritik), memuji julukan yang kita buat untuk jurusan Public Relations.
“Eh, tapi kayaknya tujuh B deh. Black Berry kan dihitung dua B.” Lanjutnya sambil mikir.
Enggak penting banget deh! Mau enam B kek, tujuh B kek, bahkan seratus B, lo hitung aja sendiri! Padahal gua, Anis, dan Ayu nyebut enam B kan merujuk setiap julukan bukan setiap kata. Dasar sok tahu! Bete deh dengar obrolannya. Tuh kan, Nanda mulai beralih ke Danka! Hhuu...
“Iya Dan, tujuh B. Black Berry kan dua kata.”
Mulai deh konsep EYD-nya. Kalau buat aku sih sah-sah aja, tapi ini, DANKA?! Aku harus buru-buru mengalihkan pembicaraan!
“Eh, kamu jadi enggak mau pindah kosan?”
“Jadi. Tapi aku belum nyari. Kata Filo ada di dekat kosan dia, bagus, empat juta. Dalamnya oke punya deh!”
“Emang apa aja?” tanyaku cepat, enggak memberi kesempatan pada Danka yang sepertinya ingin menanyakan hal yang sama.
“Kamar mandinya di dalam, dapat kasur, meja sama lemari yang gede. Murah banget kan empat juta?”
“Aku enggak yakin deh empat juta, lokasinya dekat ke kampus lagi. Ntar kamar mandi di dalam, tidurnya di luar. Hahaha...” candaku.
Dia tertawa, lepas. Ya ampunn...bahagianya melihat tawa itu.
“Kamu bisa aja deh...” ujarnya manja.
Makin gemas aja deh. Ingin mencubit pipi chubby nya, menatap bola matanya yang seperti bola pimpong sambil membelai rambut panjangnya. Mengecup bibir sensualnya. Lalu...lalu... stop!! Berfantasi juga harus pake norma!
“Kalau enggak percaya, kita lihat langsung aja yuk!” lanjut Nanda membuyarkan anganku.
“Ok, ok!” jawabku cepat. Kapan lagi bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Siapa tahu bisa gandengan tangan.
“Tapi kapan ya? Jadwalku lagi padat nih...”
“Ehm...kalau Kamis ini gimana? Aku enggak ada perkuliahan tuh.” Ujarku cepat sebelum dia berubah pikiran.
“Enggak bisa. Kita kan mau meliput buat tugas pengantar jurnal.” Terang Danka.
Ihh...kenapa sih ni orang! Perasaan dari tadi yang enggak mendukung melulu deh omongannya. Wong Nanda aja belum ngomong iya atau enggak.
“Rubrik yang aku tangani kan udah beres. Yang buat meliput hari Kamis kan tanggung jawabnya Desti, Dan. Ya...meskipun ini tugas kelompok, tapi kenapa harus kita melulu sih yang menghandle. Sekali-sekali perlu juga mereka urus sendiri, biar mandiri juga.” Jelas Nanda panjang lebar tanpa berniat memberi wejangan. Sedang Danka hanya manggut-manggut menyadari ketotalan mereka berdua dalam tugas-tugas selama ini.
“Aku bisa kok hari Kamis, Cha.” Lanjutnya.
“Jadi Kamis ya...kamu yang ke kosan aku atau aku yang ke kosan kamu?” tanyaku penuh semangat.
“Aku ikut ya...aku juga mau lihat-lihat kosan. Siapa tahu ada yang cocok.” Danka kembali nimbrung.
Ngapain sih Danka pake acara ikutan segala! Hhuu...tapi enggak enak juga nih kalau enggak dikasih ikut, lagian mau pakai alasan apa dia enggak dibolehin ikut? Who knows that I’m in love with Nanda? Mudah-mudahan aja hari Kamis dia ada kendala. Apa aja deh...sakit juga enggak apa-apa. (Maaf)
“Kalian aja yang ke kosanku. Kan lebih dekat dari kosanku.”
Kalian?? It’s mean Nanda uda nge-IYA-in Danka buat ikut. Hhuu...Danka.............!!
“Ok deh...” jawabku enggak semangat mengakhiri pembicaraan di kantin saat itu. Aku bangkit dari kursi, menepiskan pandanganku dari gandengan tangan Danka dan Nanda. Gandengan sebagai teman tentunya. Kenapa saat aku ada perasaan sama dia sulit banget rasanya manggandeng tangannya, padahal saat aku menganggapnya sebagai teman, aku begitu mudahnya melakukan itu, tanpa harus ada sikap was-was dia tahu perasaanku.
Aku memilih kembali ke saung, tempat biasa aku nongkrong sama anak-anak yang lain. Malas ikut ke perpustakaan, yang pastinya bakalan kalah saing sama buku-buku plus tabloid-tabloid fotografi.
***
Kamis...
Alarm ponsel yang ku setting pukul enam pagi bergetar tepat di bawah dadaku. Gila! Sempat kaget, kirain ada apaan dadaku pake acara bergetar segala. Dengan cepat kutekan confirm lalu kembali melanjutkan tidurku. Kan enggak ada kuliah. Lanjut...
Perasaan baru sepuluh menit aku terlelap kembali, Baby-nya Justin Bieber “meraung-raung” membangunkanku. Beginilah kalau kosan enggak ada induk semangnya, uncontrolled! Dengan malas aku pun bangkit dari kasur lalu mandi.
***
Sepanjang perjalanan aku menimbang-nimbang bagaimana nanti harus bersikap dengan Nanda. Semalaman aku memikirkannya karena apa yang aku rasakan terlalu berisiko untuk diketahui Nanda atau siapapun. Kalaupun dia harus tahu, biarlah nanti aku yang harus menyampaikannya dengan situasi yang baik.
“Masuk aja Cha, enggak dikunci kok.” Ujar Nanda dari dalam kosan menjawab panggilanku.
Dengan semangat aku masuk ke kosan Nanda. Sial, ternyata Danka lebih cepat dari ku, lima belas menit lebih awal sepertinya kurang untuk menandingi Danka.
“Hei Cha…”sapa Danka. Aku hanya tersenyum meresponnya.
Pandangan di depanku sungguh membuatku tak nyaman. Danka dan Nanda berselonjor di kasur yang cukup untuk dua orang yang dipaksakan sambil mendisain lay out tabloid mereka. Rasa cemburu sangat menguasaiku. Aneh. Rasa ini terlalu berlebihan. Lekukan-lekukan tubuh mereka yang saling bersentuhan semakin membuatku terbakar. Aku menarik satu majalah di rak buku Nanda, berusaha mengalihkan perhatianku.
Semakin aku membuka halaman majalah, aku semakin terusik dengan coretan-coretan yang tertera di beberapa rubrik fashion: pesan yang biru untuk Danka tersayang. Perhatianku pun kembali kufokuskan ke mereka.
Sesekali mereka berpandangan saat memperdebatkan ide masing-masing. Ada sesuatu yang berbeda dari cara mereka melihat, berbicara, dan menyentuh, sesuatu yang tak terdefinisi tapi kau tahu, kalau itu adalah cinta. Cinta di antara mereka. Tanpa kusadari hatiku sakit menyadari kenyataan ini. Sakit bukan karena cemburu, tapi karena aku menyadari Nanda berada di situasi yang salah.
Mataku berkaca-kaca, menyesali pemikiran-pemikiran yang selama ini menghantuiku. Pemikiran yang membuatku ingin memiliki sosok pelindungku, gadis ini yang membuat segala sesuatu seringan angin. Ingin aku menarik Danka dari sisi Nanda. Mengingatkan kalau mereka salah. Tapi niatku terganjal oleh keinginanku yang sesaat lalu baru saja kulepaskan.
Aku malu pada diriku sendiri. Apa bedanya kalau di situasi itu adalah aku bukan Danka? Pada titik inilah aku menyadari kedalaman cintaku pada Nanda. Aku mencintainya sebagaimana Danka mencintainya, mungkin lebih. Tapi, aku menyadari cinta tak selalu harus diikat dalam sebuah hubungan, apalagi jika hubungan itu sudah jelas terlarang.
2010 @WLP
Terinspirasi dari kehidupan kampus

No comments:

Post a Comment