March 03, 2013

HIDUP KOMUNIKASI!


SYMBOLIC CONVERGENCE THEORY
(TEORI KONVERGENSI SIMBOLIK)
Oleh Antar Venus

           
            Pernahkah anda terlibat pembicaraan dalam suatu kelompok yang anda merasa canggung berada didalamnya? Atau anda merasa ‘tidak nyambung’ dengan apa yang mereka perbincangkan? Atau kata-kata humor yang mereka percakapkan tidak terasa lucu bagi anda,  tapi membuat anggota lainnya tertawa terbahak-bahak?  Kalau pernah, maka beruntunglah anda karena mengalami apa yang disebut oleh ahli komunikasi kelompok sebagai  ougroup feeling. Perasaan yang menjadikan anda sebagai outsider atau orang yang merasa berada diluar kelompok.  
            Menurut Teori Konvergensi Simbolik--yang nanti akan kita bahas,  apa yang anda rasakan itu normal adanya. Jadi sama sekali tidak ada yang salah dengan diri anda. Persoalannya hanyalah terletak pada makna simbolik yang anda miliki berbeda dengan makna kelompok. Karena masalah ini maka pembicaraan anda tidak mengalami pemusatan makna  dan akhirnya anda tidak memberikan reaksi yang sama sebagaimana anggota lainnya.
            Untuk memudahkan pemahaman anda tentang apa yang saya maksudkan diatas, Sekarang cobalah anda maknai kata ”DITULIS TANGAN” yang sering digunakan dalam kelompok diskusi saya. Adakah makna yang lain selain kegiatan menulis dengan tangan? Kemungkinan besar tidak. Tapi kalau anda mengatakannya kepada anggota kelompok diskusi saya, maka mereka akan tertawa keras atau setidaknya tersenyum-senyum.  Fenomena komunikasi yang  dalam istilah Teori Konvergensi Simbolik disebut inside joke ini, membantu kita menjelaskan mengapa proses pertukaran pesan antara anda dan anggota kelompok diskusi tersebut  tidak memunculkan reaksi dan perasaan yang sama. Inilah yang dibicarakan dalam teori konvergensi simbolik dari  Ernest G Bormann. Menurut Bormann gagasan pokok teori ini adalah bahwa bertukar fantasi—lelucon, cerita, analogi, ritual, atau sekadar permainan kata-kata-- akan membawa pada pemusatan makna dan perasaan dari orang-orang yang terlibat. Jadi jika sebelumya anda telah terlibat dengan tema-tema fantasi yang berkembang dalam kelompok tersebut, niscaya anda akan memiliki perasan yang sama dan   memberikan reaksi yang serupa sebagaimana anggota kelompok lainnya. Bila mereka tertawa karena ada lontaran inside joke, maka andapun akan begitu. Tapi ketawa anda bukan karena ikut-ikutan melainkan karena gambaran atau makna tentang joke itu dalam kepala anda sama dengan yang ada dalam benak anggota kelompok lainnya.  
            Bila anda belum puas dengan penjelasan diatas dan masih tertarik untuk mengetahui teori ini lebih lanjut, Berikut adalah uraian yang relatif lengkap  tentang teori tersebut dengan cakupan bahasan meliputi riwayat kemunculan teori, pokok-pokok teori, dan  aplikasi serta evaluasinya.  

LATAR BELAKANG TEORI
Kemunculan Symbolic Convegence Theory (selanjutnya disingkat SCT) atau diIndonesiakan menjadi Teori Konvergensi Simbolik (TKS)  diilhami  dari hasil riset Robet Bales  mengenai komunikasi yang berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Pada penelitian yang dilakukan tahun 1950-an tersebut Bales sebenarnya memfokuskan penyelidikannya pada perilaku anggota kelompok yang terkait dengan cara mereka  mengakomodasi informasi yang diterima dan menggunakannya untuk membuat suatu keputusan dalam kelompok . Namun dalam proses tersebut  Bales menemukan kenyataan lain yang juga menarik minatnya yakni adanya kecenderungaan anggota-anggota kelompok menjadi dramatis dan kemudian berbagi cerita ketika kelompok mengalami ketegangan. Menurut Bales (Kidd, 2004) Cerita-cerita tersebut—yang diantaranya meliputi lelucon, kisah, ritual, perumpamaan atau permainan kata-kata-- ternyata memiliki fungsi yang penting dalam mengurangi ketegangan kelompok (tension release) bahkan mampu meningkatkan kesolidan kelompok. Bales menyebut fenomena ini sebagai Fantasy theme. Ernest Bormann (Littlejohn, 1996) kemudian meminjam gagasan tersebut untuk direplikasikan kedalam  tindakan retoris masyarakat  dalam skala yang lebih luas dari sekadar  proses komunikasi dalam kelompok kecil. Penelitian-penelitian yang dilakukan Bormann secara intensif sepanjang tahun 1970-an tersebut kemudian bermuara pada munculnya Teori Konvergensi Simbolik. 
SCT untuk pertama kalinya diuraikan oleh Bormannn dalam tulisannya  yang bertajuk “Fantasies and Rhetorical Vision: The Rhetorical Criticism of Social Reality” yang diterbitkan dalam quartely journal of Speech tahun 1972.  Sejak  itu Bormann menulis puluhan artikel dan laporan penelitian yang menggunakan SCT sebagai landasan teoritisnya dan Fantasy Theme Analysis (FTA) sebagai metodenya dengan fokus pada kohesivitas dan budaya kelompok, pengambilan keputusan dalam kelompok, penyanderaan, kartun politik hingga kampanye politik.  Tulisan bormann lainnya yang secara khusus dan lengkap berbicara tentang SCT adalah “Symbolic Convergence Theory : A Communication Formulation” yang diterbitkan dalam Journal  of Communication  edisi musim gugur tahun 1985.
            Meski teori ini dapat diaplikasikan pada berbagai konteks komunikasi, namun sebagai mana dikemukakan diatas penelitian-penelitian awal yang kemudian memunculkan teori ini berlangsung dalam konteks komunikasi kelompok. Dengan demikian tidak mengherankan bila kemudian para pakar komunikasi seperti Griffin (2003:510),  Salwen & Stacks (1996), Hirokawa & Poole, (1986) dan Miller (2002) menempatkan teori ini dalam konteks komunikasi kelompok. Bahkan menurut Frey & Poole (1999) teori ini merupakan teori yang paling komprehensif dan akurat dalam menjelaskan  hubungan antara komunikasi dan proses pengambilan keputusan dalam kelompok.
 

POKOK-POKOK TEORI
Bormann (1985) menyatakan bahwa teorinya dibangun dalam kerangka paradigma Narratif yang meyakini bahwa manusia merupakan Homo Narrans yakni makhluk yang saling bertukar   cerita atau narasi untuk menggambarkan pengalaman dan realitas sosialnya. Vasquez (Zeep, 2003)  menjelaskan bahwa Homo Narrans merupakan prinsip dasar bahwa manusia sebagai “social storytellers” yang berbagi fantasi dan kemudian membangun kesadaran kelompok dan menciptakan realitas sosial.  SCT  menegaskan bahwa solidaritas dan kohesivitas kelompok dapat dicapai melalui kecakapan bersama dalam membaca dan menafsirkan tanda-tanda, kode-kode dan teks-teks budaya. Hal ini membawa kepada terbentuknya realitas bersama (Shared reality).
Sebagai teori yang berparadigma narratif maka penelitian yang menerapkan teori ini lebih mementingkan pengumpulan data interpretif ketimbang data kuantitatif sebagaimana dikembangkan dalam teori berparadigma rasional.  Karena sifatnya yang demikian maka metode  penelitian yang umumya digunakan dalam kerangka paradigrma ini  mencakup  Studi kasus,  analisis retoris atas catatan dan dokumen kelompok, serta Analisis terhadap berbagai cerita yang berkembang didalam dan diantara anggota suatu kelompok (Bormann, 1986).
 Watson dan Hill (2000: 304-305) menjelaskan perbedaan paradigma rasional dan naratif sebagai payung suatu teori komunikasi dengan membedakan pada keyakinan  tentang realitas. Menurut paradigma rasional  realitas itu bersifat tunggal. Ada satu kebenaran yang bersifat objektif yang dapat dijadikan pegangan untuk menilai atau menguji satu argumentasi dan logika. Karena keyakinan yang seperti ini maka proponen paradigma ini menganggap fantasi atau mitos sebagai sesuatu yang tidak benar, suatu kebohongan belaka. Sebaliknya para pendukung paradigma naratif menganggap fantasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Oleh mereka fantasi tidak diartikan sebagai kebohongan, melainkan sebagai tindakan sadar yang kreatif dan imaginatif dalam memberikan makna terhadap berbagai peristiwa yang terjadi. Disini fantasi memiliki nilai kebenarannya sendiri terggantung pada subyek yang mempercayainya. Paradigma naratif berkeyakinan bahwa realitas itu bersifat majemuk dan kebenaran dikonstruksi secara intersubjektif.  Sampai disini kita akhiri saja pembahasan tentang  paradigma naratif yang menjadi payung teori ini. Sekarang marilah kita membahas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan teori konvergensi simbolik itu.
Bormann  menyatakan bahwa  Teori Konvergensi Simbolik  adalah teori umum (general theory) yang  mengupas tentang fenomena pertukaran pesan yang memunculkan kesadaran kelompok yang beimplikasi pada  hadirnya makna, motif dan perasaan bersama (Hirokawa dan Poole, 1986; 219). Penjelasan Bormann di atas tampaknya masih agak sukar dicerna, tapi maksudnya sederhana saja yakni teori ini berusaha  menerangkan bagaimana orang-orang secara kolektif membangun kesadaran simbolik bersama melalui suatu proses pertukaran pesan. Kesadaran simbolik yang terbangun dalam proses tersebut kemudian   menyediakan semacam makna, emosi, dan motif untuk bertindak bagi orang-orang atau kumpulan orang yang terlibat didalamnya. Sekumpulan individu ini dapat berasal dari kelompok orang yang  telah saling mengenal dan berinteraksi dalam waktu yang relatif lama atau orang-orang yang tidak  saling mengenal dan memiliki cara berbeda dalam menafsirkan lambang yang digunakan tapi mereka kemudian saling berkomunikasi sehingga terjadi konvergensi yang pada gilirannya   menciptakan realitas simbolik bersama . Dengan demikian proses konvergensi dapat muncul bukan hanya dalam kelompok kecil yang relatif saling mengenal, tapi juga dapat terjadi dalam rapat akbar, atau saat seseorang mendengarkan ceramah atau ketika kita menikmati film dan iklan politik ditelevisi.
Dalam teori ini, Bormann (1990:106) mengartikan  istilah konvergensi (convergence) sebagai suatu cara dimana dunia simbolik pribadi dari dua atau lebih individu menjadi saling bertemu, saling mendekati satu sama lain atau kemudian saling berhimpitan ( the way in which the private symbolic worlds of two or more people begin come together or overlap). Sedangkan istilah simbolik sendiri terkait dengan kecenderungan manusia untuk memberikan penafsiran dan  menanamkan makna  kepada berbagai lambang, tanda, kejadian yang tengah dialami, atau bahkan tindakan yang dilakukan manusia (Bormann, 1986: 221). Dalam kaitan ini Bormann juga menyatakan bahwa manusia adalah symbol-users dalam  arti bahwa manusia menggunakan symbol dalam komunikasi secara umum dan dalam storytelling (bercerita). Lewat simbol-simbol inilah manusia saling mempertemukan pikiran mereka.
Ketika kelompok  berbagi simbol bersama , komunikasi menjadi lebih mudah dan efisien. Disini Para ahli TKS mengasumsikan hadirnya semacam “a meeting of mind’  atau perjumpaan pikiran (Infante.et.al., 1993:130). Ketika pikiran saling bertemu maka orang mulai bergerak kearah penggunaan sistem simbol yang sama dan ini akan meningkatkan saling pengertian diantara orang-orang yang terlibat. Saling pengertian inilah yang kemudian  menjadi dasar terciptanya kesadaran bersama serta kesamaan pikiran dan perasaan tentang hal-hal yang diperbincangkan.  
            Dalam artikelnya berjudul  Symbolic Convergence Theory: A Communication Formulation” (1985) Bormann menyebutkan tiga aspek atau struktur penting yang membentuk bangunan teori ini yakni ; (1) Penemuan dan penataan bentuk dan pola komunikasi yang berulang yang mengindikasikan hadirnya kesadaran bersama dalam kelompok secara evolutif. (2) deskripsi tentang kecenderungan dinamis dalam sistem komunikasi yang menerangkan mengapa kesadaran kelompok muncul, berlanjut, menurun dan akhirnya menghilang,  dan  (3) faktor-faktor yang menerangkan mengapa orang-orang terlibat dalam tindakan berbagi fantasi.
            Disamping ketiga struktur pokok teori  diatas, Bormann juga menyebutkan dua asumsi pokok yang mendasari teori Konvergensi simbolik. Pertama,  realitas diciptakan melalui komunikasi. Dalam hal ini  komunikasi menciptakan realitas melalui pengaitan antara kata-kata yang digunakan  dengan pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan asumsi kedua menyatakan bahwa Makna individual terhadap simbol dapat mengalami konvergensi (penyatuan) sehingga menjadi realitas  bersama. Realitas dalam teori ini  dipandang sebagai susunan narasi atau cerita-cerita  yang menerangkan bagaimana sesuatu harus dipercayai oleh orang – orang yang terlibat didalamnya. Cerita tersebut semula dibincangkan dalam kelompok  dan kemudian disebarkan kelingkungan masyarakat yang lebih luas. Menyertai kedua asumsi pokok diatas Bormann (1986) juga menyebutkan enam asumsi epistemologis teori ini yakni (1) Makna, emosi dan motif bertindak ada pada isi pesan yang ternyatakan dengan jelas, (2) Realitas diciptakan secara simbolik, (3) Rantai fantasi menciptakan konvergensi simbolik dalam bentuk dramatistik, (4), analisis tema fantasi adalah metode pokok dalam menangkap relitas simbolik, (5) tema fantasi dapat terjadi dalam berbagai wacana yang dikembangkan dan terakhir  (6) terdapat tiga Visi analog Master yakni ; Righteous, social dan pragmatic 
Teori Konvegensi simbolik dibangun dengan melandaskan pada  gagasan bahwa anggota-anggota kelompok harus bertukar fantasi  untuk dapat membentuk kelompok yang kohesif. Dalam teori ini  fantasi diartikan sebagai interpretasi yang kreatif dan imajinatif terhadap berbagai peristiwa yang memenuhi kebutuhan psikologis dan retoris (The creative and imaginative of narratives explaining how things are believed to be) (Bormann, 1990). Jadi istilah fantasi tersebut bukan merujuk pada  cerita fiksi, hal-hal yang tidak nyata seprti dalam film kartun,  atau kisah kisah tentang peri,   atau juga hasrat-hasrat yang bersifat erotik. Fantasi lebih diartikan sebagai cerita, satire, perumpamaan, kenangan masa lalu, pengalaman, atau lelucon yang memiliki muatan emosi. Fantasi  mencakup persitiwa-peristiwa masa lalu anggota kelompok, atau kejadian yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang. Fantasi-fantasi tersebut tidak termasuk apa yang sedang tejadi dalam kelompok “saat ini dan disini”. Sebagai contoh kalau anton anggota tim kreatif dalam biro iklan  dan bercerita tentang gagasan yang telah ia buat untuk diiklankan pada koran kompas edisi minggu. Disini Anton tidak dianggap mengemukakan fantasi, karena ia hanya mendiskusikan pekerjaan yang tengah dilakukan. Lain hanya kalau ia bercerita bahwa dua hari yang lalu ia  membaca artikel dimajalah usahawan yang menceritakan sepuluh iklan makanan yang paling populer di Jepang yang menghsilkan bonus besar bagi para pembuatnya, disini anton telah menyampaikan fantasi.   
Sebulan yang lalu, Pak Udung, Venus, Pak Asep, Hasbi dan  Pak Wito berdiskusi rutin tentang teori-teori komunikasi dikediaman P.Udung di Margahayu Raya. Dalam diskusi tersebut kami juga mengembangkan apa yang disebut Bormann sebagai Tema fantasi. Setelah berdiskusi  selama hampir dua jam, tiba giliranya saya menjelaskan teori  Anxiety/Uncertainty Management Theory. Saat saya menyingkat teori itu dengan istilah AUM, kontan Pak udung nyeletuk “nama teorinya kayak anjing saya aja si- Rottwieller yang bisa mengaum. Seketika itu juga  Komentar P. Udung disambar P.Wito dengan berkata  “gimanaaa… kalau anjingnya dibawa ke kampus waktu kuliah bu Ninaa…” Pak Asep langsung menimpali dengan gaya kebapakkannya ” Jangan bikin masalah…gimana kalau nggigit mahasiswa” mendengar ucapan P. Asep tanpa sadar saya langsung berkomentar “kalau ngegigit mahasiswa…bisa-bisa anjingnya digantung di Pohon komunikasi. Kontan Tawa meledak diantara kami. Sebagai mahasiswa program Doktor Komunikasi, kami semua akrab dengan Konsep POHON KOMUNIKASI yang dikonstruksi oleh  Prof. Nina Syam. Oleh karena itu mudah saja bagi konsep ini menjadi tema fantasi diantara kami.  Setelah Humor terjadi diantara kami  terasa  suasana segar kemabli dan kami melanjutkan dengan lelucon dan cerita-cerita yang lain selama hampir lima belas menit sebelum akhirnya kembali berdiskusi. Pengalaman tersebut Rasanya tidak asing dalam kesehaian hidupkita, dan itulah arti penting TKS yakni memberikan pemahamana bahwa obrolan, lelucon, atau gosip yang dilakakun dalam suatu klompok – baru terbentuk atau sudah lama berdiri—mmiliki fungsi kohesivitas dan penguatan kesadarn kelompok.
            Karena konsep fantasi menjadi kata kunci dalam teori ini maka Boorman kemudian menyabut metode untuk mngoperasionalkan teorinya dengan istilah Fantasi Theme Analysis (FTA) atau analisis tema fantasi. Untuk memahami FTA maka langkah pertama yang perlu ditempuh adalah mmahami terlebih dahulu istilah-istilah kunci dalam FTA yakni;  Fantasy theme,  Fantasi chain,  Fantasy type, dan Rhetoical visions

Fantasy theme/Tema fantasi : 
  • Bormann mendefinisikan tema fantasi sebagai isi pesan yang didramatisasi yang memicu rantai fantasi (the content of the dramatizing message  that sparks the fantasy chain).
§  Menurut Miller (2002:231) konsep pokok dalam KTI adalah Fantasy theme (tema fantasi) yng diartikanya sebaga dramatisasi pesan—dapat berupa lelucon, analogi, permainan kata, cerita dan sebagainya—yang memompa semangat berinteraksi. Dramatisasi pesan tidak terjadi dalam konteks tugas atau pekerjaan yang tengah dihadapi. Dramatisasi pesan juga  tidak terjdi padaperistiw yang berorientasi pada “saat ini dan disini”. Segala tindakan komuniksi yang membicrakan bebagi tindakan atau kegiatan yang tejadi  pada saat peristiwa tersebut berlangsung tidkalah memiliki mutn imaginatif. Pembicaraan tersebut  bersifat nyata karena berkaitan dengan aspek “kekinian dan disini” dan semata-mata membicarakan tugas atau kegiatan yang tengah dihadapi kelompok. Lain halnya bila anda  memperbicangkn peristiwa yang terjadi diluar kelompok, atau membicarakan peristiwa serupa yng dialami anggota kelompok pada masa lalu,  atau berbicara tentang sesuatu yag terkait dengan masa depan, maka itu dapat dikategorikan sebagai fantasi. Misalnya konflik yang muncul dalam pertemuan  kelompok mungkin dilihat sebagai peristiwa dramatis, namun ini bukanlah dramatisasi pesan atau tema fantasi karena karena hal itu terjadi dalam konteks “saat ini dan disini”, sementara bila dalam kaitan tersebut kita bercerita tentang konflik yang pernah terjadi pada masa lalu, atau bercerita tentang konflik  dalam film Braveheart, maka ini dapat dikategorikan sebagai fantasy theme.

Fantasi chain :
§  Secara harfiah diartikan sebagai rantai Fantasi. Maksudnya ketika pesan yang didramatisasi berhasil mendapat tanggapan dari partisipan komunikasi dan akhirnya meningkatkan intensitas dan kegairahan partisipan dalam berbagi fantasi yang bekembang maka terjadilah rantai fantasi.  Ketika rantai fantasi tecipta tempo percakapan menjadi meningkat, antusiasme partisipan muncul, dan terjadi peningkatan rasa empati dan umpanbalik diantara partisipan komunikasi.
§  Bomann (1990: 101-120) sendiri menggambarkan rantai fantasi ‘…as a series of ideas that members link together like a play”.
§  Rantai fantasi membawa partisipan yang saling berbagi cerita kedalam konvergensi simbolik dan menciptakan  landasan pengertian bersama dan memampukan kelompok mencapai komunikasi yang empatik sekaligus terjadinya a meeting of mind.

Fantasy type/Jenis fantasi:
  • Bormann mengartikan konsep ini sebagai tema-tema fantasi yang  berulang dan dibicarakan pada sisuasi lain, dengan karakter lain dan  latar yang lain namun dengan alur cerita yang sama. Jika kerangka narasi (the narrative frame)nya sama namun tokohnya, karakternya atau settingnya  berbeda maka itu dapat dikelompokkn dalam satu jenis fantasi yang sama. Sementara bila terdapat beberpa tema fantasi atau kerangaka narasi yang berbeda maka berarti terdapat beberapa jenis fantasi.
  • Menurut Trenholm (1986)  jenis fantasi adalah suatu kerangka narasi yang bersifat umum yang terkait dengan pertanyaan atau masalah tertentu. Misalnya pertanyaan; Anda tahu kan  watak dekan  kita? “Buat apa pake rapat segala toh hasilnya kita udah tahu” 
  • orang-orang yang telah berinteraksi dalam waktu yang cukup lama biasanya telah mengembangkan semacam symbolic Cue atau petunjuk simbolis yang biasanya telah dipahami bersama. Symbolic cue ini biasanya menjadi inside joke (lelucon yang dipahami oleh orang –orang yang terlibat dalam percakapan sebelumnya. Kalau anda pernah berkumpul dengan kawan-kawan anda, dan tiba-tiba seseorang berkomentar dengan mengatakan ‘sesuatu’ lalu yang lainnya tertawa terpingkal-pingkal maka mereka terlibat dalam penggunaan symbolic cue. Sementara anda sendiri yang tidak tertawa merasa orang luar yang tidak memahami petunjuk simbolik tersebut
§  Bormann (1990) juga  membandingkan suatu tipe  fantasi yang seringkali terulang di dalam kultur sebuah kelompok. Partai politik di Amerika Serikat misalnya,  menjaga kesatuannya dengan suatu jenis fantasi yang sama. Anggota partai Republik sering muncul dengan jenis impian dan pandangan yang sama mengenai partai lawannya, yaitu suatu konsepsi bahwa partai Demokrat adalah partai yang terlalu liberal, tidak bertanggungjawab secara fiskal, pencipta inflasi, ketidakseimbangan anggaran serta kekacauan ekonomi. Partai Demokrat pada sisi lain memandang partai Republik sebagai partai yang konservatif, digerakkan oleh dan untuk kepentingan perusahaan-perusahaan besar, serta tidak berpihak kepada buruh dan rakyat miskin.


Rhetorical visions (Visi Retoris) :
  • Diartikan sebagai sharing a fantasy theme and types across a wider community. Disini  tema-tema fantasi telah berkembang dan melebar keluar dari kelompok yang mengembangkan fantasi tersebut pada awalnya. Karena perkembangan tersebut maka tema-tema fantasi itu menjadi fantasi masyarakat luas dan membentuk semacam Rhetorical Community.
  • Dalam masa Orde Baru kita melihat betapa pemerintahan Soeharto secara efektif dan sistematis berhasil menciptakan tema-tema  fantasi  yang kemudian menjadi visi retoris pada masa itu sepeti “Suprsemar”, “Pancasila Sakti”, “Pembangunan” atau visi retoris “Tinggal Landas” yag kemudian sing dipelesetkan menjadi “Tinggal Kandas’ oleh kelompok masyarakat yang tidak tergabung dalam Komunitas retoris ini. 
           
            Disamping keempat konsep kunci diatas, Bormann juga menjelaskan bahwa dalam  setiap analisis tema fantasi atau  yang lebih luas lagi dalam visi retoris selalu terdapat empat elemen pokok berikut;  tokoh-tokoh yang terlibat (dramatis personae atau character), alur cerita (plot line), latar (scene), dan agen penentu kebenaran cerita (sanctioning agents).  Tokoh pemeran dalam cerita tersebut dapat berupa pahlawan, penjahat  dan pemain pendukung lainnya. Sedangkan alur cerita merupakan  rangkaian cerita yang dikembangkan dan tindakan-tindakan apa yang dilakukan. Pada aspek Latar  tercakup didalamnya lokasi,  berbagai  peralatan atau perlengkapan yang terkait, serta aspek sosio-kultural yang ada dalam latar terkait. Terakhir adalah  sanctioning agents yang berkitan dengan sumber-sumber yang akan melegitimasi kebenaran cerita. Sumber tersebut dapat berupa tokoh agama yang membenarkan cerita itu secara keagamaan, Seorang bapak Bangsa seperti Soekarno atau sumber-sumber nilai yang dapat dijadikan patokan atau sandaran untuk membenarkan  cerita yang dirangkai. Dalam kasus kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU), kita sering melihat para pimpinan Tanfidziah organisasi ini termasuk Gus Dur mencari legitimasi atas tema-tema fantasi yang dikembangkannya dengan mengutip pendapat dan pesetujuan kelompok Kyai Langitan di Tuban Jawa Timur
            Keempat elemen pokok diatas  yang dalam istilah Bormann (Morris & Buchanan, 2000) disebut dengan istilah Dramtistic Structural Elements memang terasa mirip dengan elemen-elemen pokok dalam teori Dramatisme dari Kenneth Burke. Pada kenyataannya memang  demikian, Bahkan Morris dan Buchanan (2000) lebih lanjut menyatakan bahwa   kajian-kajian komunikasi yang bersifat humanistik memang cenderung menggunakan sudut pandang dramatistik. Empat tokoh terkemuka yang  menerapkan sudut pandang ini adalah Kenneth Burke, Erving Goffman, Walter Fisher dan Ernest Bormann.  Keempat tokoh ini, lanjut Morris dan Buchanan,  menggunakan Dramatistic viewpoint dengan cara berbeda. Burke misalnya memusatkan analisis dramatismenya pada elemen-elemen ; Act, Agent, agency, Scene, dan purpose yang kesemuanya bermuara pada motif-motif yang dilekatkan pada simbol-simbol yang digunakan. Fisher dalam   narative paradigm menekankan aspek koherensi naratif dan keakuratan naratif.  Sedangkan Goffman menekankan elemen-elemen ritual dalam interaksi sosial  yang analisisnya meliputi aspek Role enactment, places, scenes dan Facework. Bormann menggunakan sudut pandang Dramatistik secara berbeda yakni dengan  memusatkan perhatiannya kepada Pesan sebagai unit analisisnya  serta proses komunikasi diantara partisipan yang  memunculkan konvergensi fantasi, makna dan realitas simbolik diantara mereka. Jadi dalam perspektif Bormann yang menjadi premis pokoknya adalah bagaimana orang –orang  berbagi realitas bersama.  

No comments:

Post a Comment