July 07, 2013

Belajar Setia

Komitmen itu mungkin tak bakalan pernah ada, sampai kau tuntut padaku sebuah jawab atas pesan dari hatimu. Aku yang masih mengenalmu sebatas rupa bingung memberi arah. Sebagai wanita tiada kupungkiri aku merasa tersanjung dan sedikit melambung. Ya, sedikit.
Pengenalan kita yang kunilai akan masih panjang ditambah peranmu yang tidak sedikit dalam tanggung jawab baruku membuatku berpikir begitu rupa. Ditambah pula perlakuanmu yang manis membuatku tidak bisa mengambil keputusan begitu saja kala itu.
Suatu kondisi aku takut akan pesan hatimu. Entah bagaimana, katamu Tuhan berbicara padamu dalam ketekunanmu menyapa Dia. Aku tidak merasa. Dan ini membuatku takut. Dalam rasa takut yang tak kumengerti, aku dipandu hati yang menjelma dalam wujud Lia. Memanduku pada komitmen itu. Aku mengikrarkan tidak akan berpacaran sampai sarjana.
Kupikir kau akan menyerah. Nyatanya tidak. Kau setia nyaris seperti Dia yang selalu setia dikala aku tidak setia. Kau kirimi aku hadiah; dress, bunga, dan buku, yang kau tahu sungguh kusuka. Aku menduga kau masih menunggu sampai ikrar itu diputuskan. Terima kasih untuk satu hadiah lagi; belajar setia.

@bebersagala 07072013

No comments:

Post a Comment