July 11, 2013

Kusyukuri Kemudian

Kata mereka relita tak pernah melebihi imajinasi. Kata mereka realita imajinasi hanya milik malaikat bukan pribadi. Menyamainya saja nyaris. Lantas apakah ini? Memang sudah tak seharusnya realita melebihi imajinasi seperti ini.
Sesuatu yang luar biasa mengapa harus dikisah ini? Aku tak meminta Zeus, Poseidon, dan Arion dikombinasi. Cukuplah seadanya diri biar tak membuatku mencari baiknya kisah ini ditolak atau disyukuri. Hingga aku membiarkanmu pergi, menghianati cinta di hati.
Beratus kali tegak punggung berkepanjangan telah kulewati dalam diam. Tapi aku tak pernah bisa bahkan sesaat melupakanmu. Selalu kucoba dan selalu kalah. Inginku sebatas cuaca yang selalu berubah, tapi rasa ini serupa iklim, begitu permanen. Setiap angan mencoba selalu jatuh pada titik yang sama, yang begitu sempurna, dirimu.
Kata adalah caraku bisa menggapaimu. Kata yang kuramu dengan percik imajinasi dalam luasnya fantasi. Tapi, saat pagi menghampiri dalam gemercik air di tempayan, kusadari gapaiku hilang di atmosfer. Jika itu selalu jawab pagi, tolong jangan ada mentari, bulan saja sudah cukup!
Musuh ternyata tak hanya pagi, tapi kata itu sendiri. Menjelma dia dalam peribahasa yang sok tahu: “seperti pungguk yang merindukan bulan”. Dia seolah ikut menggagalkan imajinasi, melegalkan norma fantasi. Hingga takut aku dicampakkan pada kenyataan yang perih. Ke mana lagi aku mencarimu?
Iman? Em...adakah itu sebuah nama? Mengingatkanku akan seorang anak di sebelah rumah yang harapnya selalu nyata. Mungkin benar iman tempat baruku untuk mencari. Tapi mampukah iman mengubah jawaban pagi? Menanti, itu yang dijanjikannya dan aku meragu.
Langit sore yang merah telah tergambar di jendela. Aku masih bertahan dalam tegak punggung berkepanjangan, menanti yang lebih gelap lagi sampai aku seperti siluet demi menyamarkan sesal dan kesepian yang mengagenda setiap hari. Kesepian yang membidani lahirnya frustasi. Sepi yang pernah membuatku mencoba mengakhiri diri, menyadarkanku akan sakitnya menyayat nadi. Sepi yang memunculkan berani memaki Pemberi Kasih.
Lalu, bagai zenith kamu ada di situ. Begitu tiba-tiba, sangat dekat kamu denganku meski tak sedekat dalam imajinasi. Kamu tersenyum. Masih seperti dulu, tulus. Seketika hatiku berteriak memanggil mentari dan mengutuki untuk harapan yang lebih gelap tadi.
Sedetik...lima...sepuluh detik? Senyummu membatu. Adakah ini ilusi optik? Ingin kucubit diri tapi aku terlalu takut kalau ini bukan realita. Enggak siap! Kuhampiri dirimu yang bak prasasti. Berjinjit aku demi menyentuh wajahmu yang telah terpatri, wajah yang mengingatkanku pada langit malam yang tak berbintang, bersih. Wajah yang membuatku cemburu pada handuk dan cermin. Kusentuh ujung hidungmu yang mancung, kamu masih membatu. Dalam langkah mundurku, kamu mengabur bagai tulisan di kulit yang dihapus dengan  jari. Dalam diam kusadari kamu bukan pribadi. Nanar. Kutatap mentari yang masih setia pada langit sore di ufuk barat, mengangkangi hati yang mencari.
Tapi itu lebih baik daripada kunodai hidup suci atas nama cinta sejati. Daripada kutelanjangi harga diri dalam dirimu yang asli, mengemis cinta yang telah kubuang dengan alasan ketidakpercayaan diri. Bersanding dengan sempurnamu adalah percaya diri yang dikubur mati.
Mungkin pertemuan itu baiknya jangan pernah terjadi. Baiknya tetap seperti dulu, saat ruang, jarak, dan  waktu menghambat pertemuan kisah ini. Karena disitulah letak cacat sempurnamu. Tempat yang kuyakini butuh kamu akan aku. Tapi kamu terlalu berani memutuskan menghampiriku yang belum pasti. Aku yang miskin penampilan dan materi. Aku yang katamu kaya akan ironi. Aku, gadis dari seberang pulau yang kamu coba cari. Dan membawamu pada kenyataan yang kuyakini juga perih.
Lagi pula, tiada guna kamu kembali karena keadaan tak sama lagi. Biarlah aku sendiri dalam sepi yang hadirkan frustasi. Sepi yang membidani dosa-dosa besar ditiap hari dalam harapan-harapan tentangmu di singgasana keluarga yang tak pasti.
Sumber: www.nytimes.com

Andai kamu frustasi dan mengutuki diriku yang ingkar janji, lakukanlah. Selayaknya aku memang harus dikutuk dan dimaki. Mungkin ini juga salah satu buah dari kutukmu yang manis. Kutuk yang mengenalkanku pada refleksi. Dihantarkannya juga aku pada cinta sejati dalam Dia Pemberi Kasih. Tiada lain di barak-barak biara tempat baruku menggenapi hari.
Mungkin Tuhan tak ingin kamu menjadi kado cinta bagiku. Atau ini kado cinta dari Dia, menjadikan-Nya mempelai hatiku.

@bebersagala Jatinangor, 2010

No comments:

Post a Comment